Bedah Kaidah al-Wasilatul Ilal Haraami Haramun (Telaah kitab Muqaddimah Dustur)

*Bedah Kaidah _al-Wasilatul Ilal Haraami Haramun_*




Oleh: Kusnady Ar-Razi


Di antara kaidah fiqih yang populer dan sering kita dengar adalah الوسيلة إلى الحرام حرام (sarana yang mengantarkan kepada yang haram hukumnya haram). Dari mana sebenarnya kaidah ini muncul?

Asal dari kaidah ini sebenarnya adalah firman Allah:

ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم

"Janganlah kalian mencaci-maki sesembahan mereka yang menyembah selain Allah, karena mereka akan mencaci Allah dengan melampaui batas dan tanpa ilmu." (Q.S. Al-An'am: 108)

Mencaci sesembahan orang kafir hukum asalnya mubah, sebab Allah dalam beberapa ayat juga mencaci sesembahan mereka. Hanya saja, jika cacian tersebut dengan dugaan kuat menyebabkan mereka mencaci Allah maka hukum mencaci sesembahan mereka dalam kondisi ini haram. Sebab mencela Allah itu haram. Dari sinilah diistinbath kaidah الوسيلة إلى الحرام حرام.

Kapan sesuatu yang mubah dihukumi haram?

Perkara mubah bisa menjadi haram adalah saat ia diduga kuat (ghalabah adz-dzan) menjadi sebab lahirnya perbuatan haram atau ia menjadi sarana yang mengantarkan yang haram. Jadi kata kuncinya adalah "ghalabah adz-dzan". Tidak disyaratkan harus sampai derajat yakin.

Sementara apabila sarana yang mubah hanya dikhawatirkan (bukan dugaan kuat) akan mengantarkan kepada keharaman, maka sarana itu tetap mubah, tidak haram. Contohnya seperti keluarnya seorang wanita dari rumahnya tanpa niqab karena khawatir fitnah, hukumnya tetap mubah tidak lantas jadi haram. Sebab kekhawatiran akan menyebabkan keharaman itu tidak cukup untuk mengharamkan perkara yang mubah.

Contoh lain dari kaidah ini adalah:

Sesuatu yang mubah apabila ada bagiannya yang menyebabkan bahaya maka bagian itu haram hukumnya, sementara bagian lain yang tidak membahayakan tetap mubah. Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam di dalam sirahnya dan Ibnu Hibban dalam ats-tsiqat:

“Janganlah kalian meminum dari air sumur kaum Tsamud sedikitpun, dan janganlah kalian mengambil airnya untuk wudhu dan shalat, dan adonan yang telah kalian aduk berikanlah kepada unta. Janganlah kalian makan sedikitpun darinya. Dan pada malam ini janganlah seseorang keluar kecuali bersama temannya.”

Dalam riwayat di atas, Rasul secara khusus mengharamkan minum air sumur tsamud, sementara minum air itu sendiri itu mubah. Maka dalam kasus ini yang haram hanyalah air tsamud karena membahayakan, sementara air yang lainnya tetap mubah. Begitu juga keluarnya seseorang di tengah malam tanpa disertai temannya hukumnya mubah. Hanya saja dalam riwayat di atas, Rasul melarangnya sebab dalam kondisi tersebut tindakan tersebut membahayakan.

Dari sini muncul kaidah kedua:


كلّ فرد من أفراد المباح إذا كان ضارًّا أو مؤدّياً إلى ضررٍ حرّم ذلك الفرد و ظلّ الأمر مباحاً

“Setiap bagian dari perkara-perkara yang mubah apabila berbahaya atau akan mengakibatkan bahaya, maka bagian tersebut diharamkan, sementara perkara yang mubah lainnya tetap berada dalam kemubahannya.”

_Wallaahu a'lam_
Baca Juga