Benarkah ada Istilah "Pengobatan Sunnah" Dalam Islam? #1

Masih Edisi Menata Istilah
(Tentang Pengobatan dan Olah Raga Sunnah)
.

.
Pada seri sebelumnya, saya berbicara terkait "menata istilah". Contohnya adalah catatan kritis terhadap istilah pengobatan cara nabi, fitnah akhir zaman, olah raga sunnah, dan istilah sunnah sendiri.
.
Dalam kitab al-Madkhal ila Dirasah al-Sunnah al-Nabawiyyah ada pemetaan makna sunnah. Sebenarnya ini bukan hal baru, namun bentuk pengulangan penjelasan dari ulama sebelumnya. Hanya saja beliau menyajikan dengan bahasa yang sangat sistematis.
.
(1) Sunnah SECARA BAHASA setidaknya memiliki 2 makna: (a) tariqah mustaqimah mahmudah/jalan yang lurus dan baik; dan (b) sirah/perjalanan, bisa bermakna baik atau buruk.
.


(2) Sunnah dalam TRADISI ISLAM se
cara umum kala itu adalah: metode Islam, petunjuk kenabian, metode yang disyariatkan dalam agama, dan manhaj kenabian yang lurus. Kontradiksi dari sunnah dalam makna ini adalah metode selain Islam, bukan petunjuk kenabian, metode yang menyalahi agama, dan mamhaj yang menyimpang. Ungkapan "fulan 'ala sunnah" artinya seorang berjalan di atas jalan kebenaran (sesuai petunjuk Nabi dan shahabat). Adapun ungkapan "fulan 'ala bid'ah" artinya seseorang berjalan di atas jalan yang menyalahi salaf shalih, atau menyalahi agama dalam bentuk membuat hal baru dalam urusan agama.
.
(3) Sunnah SECARA ISTILAH dipahami beragam. (a) Menurut ULAMA HADITS, sunnah adalah apa yang disandarkan kepada Nabi ﷺ baik perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifatnya. Sifat mencakup sifat akhlak dan sifat penciptaan. Termasuk juga sirahnya. Bahkan para ahli hadits menisbatkan sunnah pada para shababat.
.
(b) Sunnah menurut ULAMA USHUL FIQIH adalah apa yang disandarkan kepada Nabi ﷺ baik perkataan, perbuatan, maupun persetujuannya.  Fokusnya adalah sunnah sebagai masdar tasyri' atau sumber hukum syariah.
.
(c) Sunnah menurut ULAMA FIQIH adalah tuntutan al-syari' yang tidak wajib, artinya tuntutan tidak bersifat tegas, dimana mengerjakannya mendapat pahala dan meninggalkannya tidak berdosa.
.
Jika ada yang mengatakan "pengobatan sunnah" dan "olah raga sunnah", apakah gerangan yang dimaksud sunnah di sana? Tentu yang dimaksud bukan sunnah dalam makna bahasa, makna istilah ahli fiqih dan ushul fiqih. Bukan pula dalam arti urf umum Islam, karena kalau dimaknai itu, tentu yang berbeda dengannya adalah sesat. Apa iya pengobatan bekam adalah jalan selamat dan suntik adalah sesat? Apa iya habbatus sauda adalah jalan selamat dan obat di apotek jadi sesat? Apa iya memanah adalah jalan keselamatan dan menembak dengan senapan jalan kesesatan?
.
Maka satu-satunya makna yang cocok adalah sunnah dalam makna ahli hadits, yakni apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah ﷺ. Itulah makna yang dimaksud dengan istilah "pengobatan sunnah" atau "olah raga sunnah". Karena, itulah yang dilakukan oleh Rasulullah, atau oleh shahabat di hadapan Rasulullah, atau ada dalam sifat atau sirah Rasulullah.
.
Jika maknanya demikian, maka tidak tepat menggunakan hadits "man ahya'a sunnati/ barang siapa menghidupkan sunnahku". Karena sunnah di sana dimaknai oleh para ulama hadits sebagai thariqah Islam, manhaj kenabian, jalan pentunjuk dan jalan keselamatan.
.
Oleh karena itu, saat kita melakukan "pengobatan sunnah" dan "olah raga sunnah", itu adalah dalam rangka tasyabbuh kepada Nabi, dan mengharap keberkahan. Misal saya rutin berbekam, rutin minum madu, makan habbatus sauda, belajar berkuda, memanah, berenang, dll itu dalam rangka tabarrukan kepada Nabi, dengan keyakinan bahwa di dalamnya ada banyak kebaikan. Tasyabbuh kepada orang shalih adalah berpahala. Sabda Nabi, "anta ma'a man ahbabta/ anda bersama orang yang anda cintai", al-hadits.
.
Saya mau buat ilustrasi. Tiap Kamis, saya ngisi kajian Bulughul Maram, dan hari ini masuk Bab Makanan. Terdapat beberapa hadits:
.
وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: ( نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ اَلْحُمُرِ اَلْأَهْلِيَّةِ, وَأْذَنْ فِي لُحُومِ اَلْخَيْلِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي لَفْظِ اَلْبُخَارِيِّ: ( وَرَخَّصَ ) َ
.
Jabir Radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada waktu perang Khaibar melarang makan daging keledai negeri dan membolehkan daging kuda. Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Bukhari: Memberikan keringanan.
.
وَعَنْ اِبْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: ( غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ, نَأْكُلُ اَلْجَرَادَ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
.
Ibnu Abu Aufa Radhiyallaahu 'anhu berkata: Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebanyak tujuh kali, kami selalu makan belalang. Muttafaq Alaihi.
.
وَعَنْ أَنَسٍ - فِي قِصَّةِ اَلْأَرْنَبِ - ( قَالَ: فَذَبَحَهَا, فَبَعَثَ بِوَرِكِهَا إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَبِلَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه
.
Dari Anas Radliyallaahu 'anhu tentang kisah kelinci, ia berkata: Ia menyembelihnya dan mengirimkan pangkal pahanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan beliau menerimanya. Muttafaq Alaihi.
.
وَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ رضي الله عنه ( -فِي قِصَّةِ اَلْحِمَارِ اَلْوَحْشِيِّ- فَأَكَلَ مِنْهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
.
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu 'anhu -tentang kisah keledai hutan-: Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memakan sebagian darinya. Muttafaq Alaihi.
.
وَعَنْ أَسْمَاءِ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( نَحَرْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَساً, فَأَكَلْنَاهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
.
Asma' Binti Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu berkata: Kami pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, lalu kami makan. Muttafaq Alaihi.
.
وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( أَكُلَّ اَلضَّبِّ عَلَى مَائِدَةِ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
.
Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata: Kadal gurun pernah dimakan (oleh para shahabat) dalam hidangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam Muttafaq Alaihi.
.
Pada hadits-hadits tersebut menyebutkan bahwa keledai hutan, belalang, kelinci, kadal gurun, dan kuda adalah makanan yang disandarkan pada Nabi ﷺ. Maka makanan tersebut adalah "sunnah", dalam makna disandarkan kepada Nabi. Hanya saja di dalamnya tidak disebutkan keutamaan. Hanya berupa kebolehan/halal. Berbeda dengan beberapa obat, teknik pengobatan dan olah raga tertentu, dimana Rasulullah menyebutkan adanya keutamaan.
.
Lantas bagaimana posisi pengobatan atau olah raga selain yang disebutkan dalam hadits? Setelah kita pahami bahwa "sunnah" disana adalah dalam makna istilah ahli hadits, maka poinnya adalah terkait sandaran, bahwa itu semua disandarkan kepada Rasulullah. Jadi, bisa saja kita geser makna sunnah dari istilah ahli hadits ke makna urf umum Islam. Namun hal ini membutuhkan dhawabith (ketentuan). Pada titik inilah "pengobatan sunnah" dan "olah raga sunnah" menjadi bermakna "manhaji", bukan lagi bersifat idhafi yang qauli, fi'li, taqriri, atau sifati. Pada titik ini pula, maka setiap yang menyalahi "sunnah" secara manhaj, maka hal tersebut sebuah keburukan.
.
Saat berbicara "pengobatan sunnah" dan "olah raga sunnah" dengan makna "manhaji", maka apa dan bagaimananya menjadi luas. Karena pijakannya adalah dhawabith. Misal obat dan teknik pengobatan yang merupakan temuan ilmuan muslim setelah era shahabat (seperti di era Umayyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah), adalah juga "sunnah" secara manhaji. Demikian juga olah raga, strategi perang, dan alat perang yang dilakukan oleh para tentara muslim setelah era shahabat adalah juga "sunnah" secara manhaji. Misal, meriam yang digunakan Muhammad Al Fatih untuk takukan Konstantinopel juga "sunnah" secara manhaji.
.
Jadi apa saja dhawabith "pengobatan sunnah" dan "olah raga sunnah"? Jawabannya tidak saya jelaskan di sini. In sya Allah akan saya ulas secara terpisah. Yang jelas, ada beberapa kaidah dan patokan yang harus dipenuhi secara manhaji.
.
Ada hal yang sangat menarik, yaitu kita bisa saksikan, semua yang bersifat idhafi (disandarkan pada Nabi) senantiasa dirawat dan dijunjung tinggi oleh para ulama. Bahkan sampai ada sanad berkuda, sanad memanah, dll. Karena didasarkan pada keyakinan bahwa semua yang bersifat idhafi adalah kebaikan. Demi Allah itu semua kebaikan. Namun secara manhaji, para ilmuan muslim pada masa keemasan Islam terus menemukan obat, cara pengobatan, alat perang dan teknik berperang yang dituntut secara mafhum dan ma'qul dari nash-nash yang ada. Secara manhaji terus berkembang dengan pijakan qawa'id (kaidah-kaidah) dan dhawabith yang shahih.
.
Saya sudah baca dan pelajari kitab Thibbun Nabawi (Pengobatan Cara Nabi) dan Al-Furusiyyah al-Muhammadiyyah (Olah Raga Ketangkasan Nabi yang Kaitannya dengan Jihad). Dapat saya simpulkan, bahwa ada titik temu dan keselarasan antara tasyabbuh kepada Nabi, harapan keberkahan, merawat silsilah keberkahan dengan sanad, jalan keselamatan, dan riset ilmu pengetahuan mutakhir pada setiap zamannya.
.
.
Bandung, 12 Maret 2020
Yuana Ryan Tresna
Baca Juga