Ketika Ananda Terinfeksi Virus Merah Jambu

Ketika Ananda Terinfeksi Virus Merah Jambu


Jika kita perhatikan anak-anak setelah usia 10 tahun mulai memperhatikan penampilan dirinya dan suka berdandan. Anak laki-laki ketika berada di depan cermin mulai menimbang-nimbang model rambutnya dan seringkali sisiran dan mencoba bergaya sesuai dengan trend sebayanya. Anak perempuan mulai gelisah dengan wajahnya yang tidak mulus,badan yang tidak wangi, rambut yang tidak mengagumkan.

Pada kondisi ini keuangan emak mulai bertambah pengeluaran,anak laki minta belikan minyak rambut dan wewangian dan stelan-stelan pakaian yang mulai pilih-pilih untuk bergaya. Pun anak perempuan mulai cari shampo yang cocok, bedak yang wangi serta cream wajah yang merona,luluran dsb.

Fase anak mulai memperhatikan dirinya berpenampilan memesona suatu hal yang fithrah hanya perlu pengaturan sesuai hukum syara’ bagaimana penampilan itu bernilai ibadah bukan malah sebaliknya mengundang kemaksiatan.

Anak ingin tampil cantik dan ganteng tentu bukan semata-mata ingin dipandang oleh teman sesama jenisnya juga ingin dipandang oleh lawan jenisnya jika ananda memang seringkali bertemu dan berinteraksi dengan teman baik laki-laki maupun perempuan, di sekolah misalkan. Pertemuan dan interaksi dengan lawan jenis merupakan rangsangan tersendiri bagi anak dan akan bisa bangkit naluri ketertarikannya jika intensitas pertemuan dan interaksi itu sering terjadi. Maka dalam kondisi seperti ini orang tua harus menuntaskan beberapa hal pada pembentukan pola berpikir anak.

1. Mengokohkan aqidah Islam sehingga anak yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi amalnya dalam kondisi ramai maupun sunyi..

2. Keterikan pada hukum-hukum Allah swt bahwa setiap amalnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban, anak menimbang amalnya berdasarkan halal dan haram datang dari Allah swt.

3. Sudah tuntas pemahaman tsaqafah Islam tentang nizham ijtima’iy (sistem pergaulan) seputar dimana boleh bertemu laki-laki dengan perempuan,interaksi apa saja yang boleh, kewajiban menundukkan pandangan, kewajiban menutup aurat dan pakaian ke luar rumah, haramnya berkhalwat,haramnya berikhtilath,dan cara berdandan.

Nah ketika anak sudah dibekali, insya Allah anak akan membatasi dirinya dalam pergaulan dan akan memandang fakta pergaulan sesuai pemahaman Islam. Adapun secara keseluruhan pada usia 10 tahun ke atas itu sebaiknya kehidupan anak sudah terpisah antara laki-laki dan perempuan, wa bilkhusus di sekolah sebaiknya berpisah majelis.

Sekolah yang terpisah majelis insya Allah dapat mengalihkan naluri ini , fokus anak tertuju pada belajar. Tidak mengalami kegalauan virus merah jambu. Disini juga pentingnya mengontrol seluruh rangsangan yang mempengaruhi anak baik itu tontonan, bacaan, bullyan orang sekitar.

Bagaimana jika ananda sudah terlanjur jatuh cinta sementara anak menuntut cinta itu dibalas dan dipuaskan ? Sedangkan menurut pertimbangan orang tua ananda belum cukup dewasa untuk mengarungi bahtera rumah tangga? Maka bisa jadi kejadian seperti ini orang tua tidak tuntas memberikan tsaqafah islam khususnya Fiqh pergaulan. Maka orang tua harus sesegara mungkin menuntaskannya .

Jika sudah kejadian, misalkan ananda sampai pacaran,maka orang tua tidak serta merta memberikan cap-cap negatif atau malu jika manusia mengetahuinya apa kata dunia? Pahami saja bahwa anak butuh bimbingan untuk keluar dari dosa. Juga evaluasi diri kita yang mungkin banyak ruang kosong dalam membekali keimanan anak. Sebagai orang tua posisikan diri kita sebagai orang yang paling layak dan berharga bagi anak untuk keluar dari masalahnya dan kita berikan solusi Islam.

Anak bisa saja ditawarkan kejenjang pernikahan,namun jika dia menolak mintalah dia dengan bismillah memutuskannya dan kita siap membawa ananda menuju ketakwaannya dengan bertaubat dan melangkah bersama menuju kemuliaan yang lebih tinggi.

Ini kan hanya persoalan naluriah,maka pemuasannya tidak bersifat pasti paling juga gelisah iya, tapi tidak sampai membuat fisik sakit-sakitan atau sampai pada kematian. Kita sampaikan pada anak bahwa perasaan itu bisa dialihkan mari kita melakukan aktifitas yang bisa membuat kita lupa dengan rasa sakit atas nama cinta. Tepatnya pengalihan itu dengan bertaqarrub kepada Allah swt, dengan mendawamkan shalat-shalat sunnah, tilawah Alquran, berdzikir, bershalwat, berdakwah.

Juga anak diajak untuk menjauhkan rangsangan-rangsanganya dengan tidak menyimpan no hp dan photonya misalkan,tidak berteman, follow,like dan share sosial medianya. Apapun yang terkait dengannya diputuskan saja. Termasuk memilihkan teman yang saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebenaran dan ketakwaan.

Wallaahu a’lam bishshowab

Yanti Tanjung