Parenting : Pengulangan Pada Anak Bukan Pemaksaan

 

Pengulangan Pada Anak Bukan Pemaksaan

Oleh : Yanti Tanjung

Siapa yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang shaleh/ah? tentu saja kita semua mau memiliki anak yang shaleh maupun shalehah. Namun untuk mendapatkan anak yang shaleh atau shalehah kan harus dibarengi dengan pendidikan yang baik juga. Itulah pentingnya kita belajar. Dalam blog saya ini, saya akan meruangkan sedikit waktu untuk berbagi informasi soal parenting.

keshalehan itu pasti identik dengan ibadah. Kepada anak anak jugakan kita ingin mereka adalah ahli ibadah. Usaha demi usaha kerap kita lakukan untuk menjadikan mereka terbiasa ibadah, namun tak jarang kita mereasa kecewa atas hasilnya. Janji demi janji kita berikan, sangsi demi sangsi juga juga berikan namun ada saja capaian yang tidak sesuai dengan harapan. Jangan bersedih, tentu saja ini semua karena Allah meberikan kita kesabaran untuk di pakai. Apalagi mendidik anak.

Baiklah, untuk tidak berpanjangan lebar. Saya ada tips ini yang saya dapat dari group Parenting Ayah tanngguh yang di asuh oleh Ustadzah Yanti Tanjung. Tips ini  tentnag pendidikan pada anak khususnya soal pengulanan atau melatih anak. 

Dia mengatakan, Proses mendidik anak itu tidak bisa sekali jadi, tidak bisa kita banyak berharap sekali treatment anak langsung berubah apalagi anak usia prabaligh membutuhkan uslub berkali-kali untuk mendapatkan hasil dari ikhtiar pendidikan kita. Jika prosesnya benar sesuai dengan konsep dan metode pendidikan Islam maka kepribadian Islam anak akan bisa kita saksikan.

Pengulangan Pada Anak Bukan Pemaksaan

Pengulangan (tikrar) adalah sebuah proses belajar dan bagian dari proses talaqqiyan fikriyyan.Jika kita ingin ananda dalam berpikirnya, maka pengulangan ini suatu keharusan. Kedalaman berpikir membutuhkan dalam mengindera fakta dan dalam menyerap informasi dan dalam mengaitkat informasi dengan fakta. Agar kedalaman tersebut didapatkan sehingga terbentuk pemahaman maka butuh pengulangan tentu juga membutuhkan variasi uslub, teknisnya jangan itu-itu saja tapi carilah variasi bahasa dan variasi kreatifitas agar pengulangan itu tidak membosankan.

Mislkan kita ingin ananda bangun subuh tepat waktu, agar pemahaannya terbentuk bisa diawali dengan memberikan materi fiqh tentang shalat, bercerita seorang tokoh ahli ibadah dan rajin ke mesjid shalat subuh, waktu lain ayah mengajak anak laki-lakinya mabit di mesjid, kesempatan lain ananda dimotivasi dengan reward setiap kali bisa menaklukan waktu subuh dsb. Kekayaan strategi inilah yang akan memicu kecerdasan berpikir anak dan mensalehkan jiwanya.

Ayah bunda tidak perlu terburu-buru dalam hasil, nikmati saja prosesnya, anggap saja ayah bunda sedang menyukseskan proyek besar dimana prosesnya harus sesuai SOP dan jika berhasil yang akan menikmatinya adalah ayah bunda dan umat secara keseluruhan.

Terkadang kita ingin cepat-cepat melihat hasil,sekali proses saat itu juga harus kelihatan hasilnya akhirnya proses menyalahi hasil dan menyalahi aturan. Bisa jadi saat itu anak terpaksa berubah dan melakukan sesuai perintah namun besoknya tetap dipaksa lagi tanpa tumbuh kesadaran untuk melakukannya sendiri.

 Pemaksaan itu hanya merusak jiwa anak dan membuat anak kesal dan ngedumel tidak sampai pada ihsanul amal (ikhlas dan sesuai syariah). Akhirnya kepribadian Islam anak tak kunjung hadir dalam diri anak. Sungguh indah pepatah mengatakan :


قطرة الماء تـثـقب الحجر...


Tetesan air mampu menembus batu...


لا بالعنف...

Bukan dengan kekerasan...


لكن بالتكرار...


semoga bermanfaat tulisan singat ini ya. seputar Pengulangan Pada anak Bukan Pemaksaan. Jika ada kritik dan saran silahkan di komentar ya..



Baca Juga