WAKTU IBARAT PEDANG [Sebuah renungan untuk para penuntut ilmu]

*WAKTU IBARAT PEDANG*


[Sebuah renungan untuk para penuntut ilmu]


Dalam kitab Ath-Thuruqul Manhajiyah Fi Tahshilil 'Ulum asy-Syar'iyyah, Syaikh Musthafa bin Ridha Al-Azhari menjelaskan beberapa perkara penting yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu. Di antaranya adalah menjaga dan memperhatikan waktu. Sebab di antara nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah nikmat waktu. Sebagaimana sabda Rasulullah:

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ (رواه البخاري)

"Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang." (H.R. Bukhari)

Al-Imam Asy-Syafi'i pernah bertutur:

استفدت من السادة الصوفية في مجالستهم شيئين قولهم: الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك، وقولهم: إن لم تشغل نفسك بالخير شغلتك بالشر

"Aku mengambil manfaat dari dua ucapan para pemuka sufi di majelis mereka, yaitu: _waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya (memanfaatkannya) maka ia yang akan mencabikmu_. Dan juga perkataan mereka: _jika engkau tidak menyibukkan diri dengan kebaikan maka keburukan akan menyibukkanmu_".

[Ath-Thuruqul Manhajiyah fi Tahshilil 'Ulum asy-Syar'iyyah, Syeikh Musthafa bin Ridha Al-Azhari, hlm. 29]

Itulah sebabnya juga mengapa Allah bersumpah dengan waktu; demi waktu, demi waktu dhuha, demi waktu fajar, dst, tidak lain adalah agar manusia memperhatikan betapa berharganya waktu mereka di dunia.

Al-Imam An-Nawawi dalam al-Majmu' mengatakan:

وينبغي للطالب أن يكون حريصا على التعليم مواظبا عليه في جميع أوقاته ليلاً ونهارًا حضرًا وسفرًا ولا يذهب من أوقاته شيئًا في غير العلم إلا بقدر الضرورة لأكل ونوم قدرًا لا بد منه ونحوهما كاستراحة يسيرة لإزالة الملل وشبه ذلك من الضروريات

"Sudah semestinya para pelajar itu memiliki hasrat yang tinggi untuk belajar dengan gigih di setiap waktu, baik malam maupun siang, baik saat ia di tempat tinggalnya ataupun saat bepergian. Tidak boleh waktunya berlalu begitu saja untuk hal-hal lain selain belajar kecuali untuk kebutuhan penting dan mendesak seperti makan dan tidur atau istirahat sebentar sekadar untuk melepas lelah."

[Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, hlm. 39]

Perhatian tinggi semacam inilah yang mengantarkan Imam An-Nawawi ke level yang paling tinggi dalam ilmu. Itulah mengapa meski usianya tidak panjang, tapi karya-karyanya yang ratusan itu seakan-akan melampaui usianya. Satu hal yang sulit dilakukan oleh orang yang hanya diberi usia singkat seperti beliau (wafat di usia 45 tahun).

Lalu bagaimana dengan kita?


*[Kusnady Ar-Razi]*
Baca Juga