Antara Covid Konspirasi dan Ngopi Silaturahmi



Makin ke sini wacana konsipirasi covid makin liar. Masyarakat kini terbelah dua menilai perkembangan covid dan penangannya. 
.
Hal ini disebabkan karena ketidakpuasan penanganan, banyaknya kejadian yang serba kebetulan, dan apalagi pemerintah sudah banyak mengeluarkan anggaran. Maka wajar logika masyarakat akhirya liar dan mengatakan dalam hati, bener atau ga sih ini? ada atau tidak sih ini? trus apa kita harus gini gini terus? sampai kapan?
.
Dedy corbuzier, mantan menkes, Jerink SID, dan mardigu termasuk yg menjadikan isu ini makin besar.
.
Mulai dari sana akhirnya ada yang mengatakan "jangan2 yang memulai wacana konspirasi covid itu bagian dari konspirasi"
.Kalangan anti konspirasi (yg bukan pakar) biar agak keren mereka beralasan kalau pendapat mereka adalah pendapat yg bijaksana karena mengikuti pakar. Akhinrnya aku menlihat ada beberapa orang diantara mereka membodoh bodohi kalangan yg pro konspirasi.
.
Kalangan pro konspirasi mulai share2 kejaanggalan2 atas penanganan dan data yg diyakini hanya tuhan yg tau pasti.
.
Nakes dan media menjadi pihak tertuduh yang memulai cerita konspirasi ini. Diinternal nakes mereka juga merasa paling 'pahlawan' atau paling tidak mereka disebut paling menderita karena covid ini.
.
Kalau di internal media. Insan pers juga merasa paling berjasa karena mengabarkan secara konsisiten pemberitaan covid. Darisana akhirnya masyarakat tau ;  ditengan  industri media yang juga terdampak covid -  Diantara mereka ada yang akhirnya tutup sampai waktu yg tak ditentukan,  ada yg menjual mesin cetaknya dan ada juga yang memPHK karyawannya.
.
Wajar kemudian hingga mereka 'ngarep' atau paling tidak konon akan dapat suntikan sedikit dari pemerintah atau perusahaan yg berkepentingan terhadap perkmbangan isu covid.
.
Lantas apa yg harusnya dilakukan sekarang?
.
Menurutku yg harus dilakukan adalah banyak 'piknik' minum kopi dan silaturahmi. Karena dengan piknik kalian akan tau sebenarnya diluar sana apa yang sebenarnya yg terjadi.Mulai sekrang jadikan sosial media menambah energi dan imun, bukan malah menjadi pusat caci maki karena ketidaksamaan persepsi soal konspirasi atau tidak.

Kedua, dengan mimum kopi dan silaturahmi paling tidak kita akan tau bahwa kita ini satu bangsa satu akidah dan satu naseb yang bersaudara.
.
Kalian kalau ga bisa sering silaturahmi, ya minimal video call lah sama saudara sendiri maka kalian akan merasakan apa yg mereka rasakan. Jadi kalian tidak akan berburuk sangka dan saling mengGoblok goblokan.

Intinya jangan saling tuding. Bencana ini nyata ada, walau kekhawatirannya mungkin berlebihan. Dan bencana sebenarnya itu bukanlah ini konspirasi atau tidak, tapi saat kita hilang kewarasan dalam menyikapi bencana tuding sana tuding sini.

Mari siapkan diri untuk berdamai dengan diri sendiri...
.
Bang Bara
#celotehsore
.

Baca Juga