5 Tipe Muslim Yang Wajib Kamu Ketahui

5 Tipe Muslim Yang Wajib Kamu Ketahui

Ada tulisan menarik dari salah seorang sahabatku sekaligus guruku juga dari Medan. Ialah Ustadz Kusnady Ar Razy. Tulisannya dengan redaksi seperti ini.

Orang sekarang macam-macam tipenya, ada yang:

1. Rajin menuntut ilmu, tapi malas berdakwah. Ada potensi dia kitmanul 'ilmi (menyembunyikan ilmu). Dan ini dosa.

2. Rajin berdakwah, tapi malas menuntut ilmu. Ada potensi dia menyeret orang lain dalam kesesatan. Ini juga dosa, plus kejahilan.

3. Ada yang senang belajar, tapi malas beramal. Ini contoh orang yang tertipu dengan ilmunya. Ilmunya tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya.

4. Ada yang rajin beramal, tapi malas belajar. Ada peluang menyalahi syari'at dalam amalnya. Konsekuensinya, amalnya bisa tertolak. Ini orang yang tertipu dengan amalnya.

Lalu bagaimana kalau ada tipe kelima? Malas belajar, malas berdakwah dan malas beramal? Takbirkan empat kali untuknya! Karena sesungguhnya hatinya telah mati.

Menurutku ini tulisan sangat bagus sekali, dalam kesempatan ini  aku coba mensyarahkan apa yang dimaksud dalam tulisan itu. Semoga tidak salah makna.



 1. Rajin menuntut ilmu, tapi malas berdakwah. Ada potensi dia kitmanul 'ilmi (menyembunyikan ilmu). Dan ini dosa.



Allah melarang mereka menyembunyikan ilmu (kitmanul ilmi) dan sebaliknya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyuruh mereka agar menyampaikan ilmu dan menyebarkannya kepada manusia sesuai daya dan kemampuan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada mereka. Sesungguhnya Allah tidak membebani satu jiwa pun kecuali sesuai dengan kemampuanya. Allah berfirman :

إن الذين يكتمون ما أنزلنا من البينات و الهدى من بعد ما بينّه للناس في الكتاب أولئك الذين يلعنهم الله ويلعنهم اللاعنون

Artinya : Sesunggunya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan ( yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menurunkanya kepada manusia dalam al kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat. ( al baqoroh : 159 )

Barang siapa yang menyembunyikan ilmunya dan mengumpulkan dua kerusakan : menyembunyikan apa-apa yang diturunkan Allah ta’ala dan dilaknat semua makluk yang bisa melaknat, karena usahanya menipu makhluk, merusak agama mereka dan menjauhkan mereka dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala . orang seperti ini diganjar sesuai dengan amal yang dilakukan, sebagaimana orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, maka setiap sesuatu hingga ikan yang ada didalam air burung-burung yang terbang di udara memohonkan ampun untuknya, karena usahanya menebarkan kemaslahatan kepada hamba dan memperbaiki agama mereka dan karena dia telah mendekatkan mereka kepada rohmat Allah ta’ala, maka dia dibalas sesuai dengan jenis amalnya

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang hafal suatu ilmu, namun dia menyembunyikannya, kecuali dia akan didatangkan pada hari kiamat dengan keadaan dikekang dengan tali kekang dari neraka”. [HR. Ibnu Majah, no. 261; Syaikh al-Albani menyatakan tentang hadits ini ‘Hasan Shahîh)



2. Rajin berdakwah, tapi malas menuntut ilmu. Ada potensi dia menyeret orang lain dalam kesesatan. Ini juga dosa, plus kejahilan.



Dari Ibnu Abbas – radhiyallahu ‘anhu -, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda, “Semua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhari dan lainnya)

Banyak di antara manusia yang tidak menggunakan waktu sehat dan waktu luangnya dengan sebaik-baiknya, misalnya untuk belajar Islam atau menimba ilmu syar’i. Padahal malas menuntut ilmu syar’i akan membuahkan kebodohan. Bodoh dalam agama sangat berbahaya.

Yang paling membahayakan, menyebabkan seseorang tidak mengetahui mana yang halal dan yang haram, mana perintah dan larangan. Terkadang, mereka mengerjakan sesuatu yang haram, namun mereka menyangka itu justru amal ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah – ta’ala -. Mereka beragama atas dasar ikut-ikutan saja.

 Orang yang malas menuntut ilmu , tidak mau mendengar dan memahami Al Quran dan sunnah, dan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Demikianlah sebagaimana firman Allah – ta’ala -, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 43-44)

3. Ada yang senang belajar, tapi malas beramal. Ini contoh orang yang tertipu dengan ilmunya. Ilmunya tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya.



Orang orang seperti ini berpotensi menjadi orang orang munafik. Sungguh celaanAllah pada orang orang munafik ini banyak sekali.

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (QS. Al-Baqarah: 14) 

Akan tetapi, Allah ‘azza wajalla menghadapi mereka dengan ancaman mengerikan yang dapat mengguncang eksistensi mereka sehingga mereka menjadi kehilangan arah dan terpukul. Jalan yang telah mereka pilih sejatinya adalah jalan yang menambah parah kesesatan dan permusuhan mereka terhadap umat beriman.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 16)

Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama suu’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim).

4. Ada yang rajin beramal, tapi malas belajar. Ada peluang menyalahi syari'at dalam amalnya. Konsekuensinya, amalnya bisa tertolak. Ini orang yang tertipu dengan amalnya.


Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)

Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian,  pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)

Akibat kemalasan belajar inilah menyebabkan kita akhirnya tidak faham syariat dan tidak mengerti kemuliaan Islam. Dan tentu saja ini sangat berbaya dan dapat menjadikan kita melakukan kesalahan kelasahan yang berulan ulang. Karena tidak memahami kemuliaan Islam itu sendiri.

Lalu bagaimana kalau ada tipe kelima? Malas belajar, malas berdakwah dan malas beramal? Takbirkan empat kali untuknya! Karena sesungguhnya hatinya telah mati.



bagaimana mengetahui bahwa hati seseorang bermasalah atau bahkan telah mati secara kasat mata? Ibnu Athaillah dalam kitab al-Hikam menjabarkan mengenai ciri-ciri orang dengan hati yang mati. Salah satu cirinya adalah tak merasa bersalah atas perbuatan dosa dan kelalaian ibadah yang telah diperbuat.

Beliau dalam kitab tersebut menjabarkan bahwa orang yang lalai dalam ibadah serta kebaikan yang diperintahkan Allah SWT, maka rutinitasnya sehari-hari akan terasa hambar. Tak hanya itu, mereka juga tak akan merasakan kebahagiaan atau keresahan sama sekali. 

Misalnya, ketaatan tak akan membuatnya merasa bahagia dan kemaksiatan tak akan membuatnya resah. Orang dengan ciri-ciri seperti ini merupakan manusia yang memiliki hati mati. Tak hanya itu, orang dengan hati yang mati cenderung lebih mengutamakan hawa nafsunya ketimbang apapun yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman dalam Surat al-Furqan ayat 43 berbunyi: "Araayta manttakhadza ilahahu hawaahu afa-anta takunu alaihi wakiila.".

Yang artinya: "Sudahkah engkau (wahai Muhammad) melihat orang yang menjadikan nafsunya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?".

Sementara itu Imam Hasan al-Bashri pernah menyampaikan bahwa orang yang hatinya mati dan sakit akan mengikuti jalan-jalan keburukan. Sedangkan manusia dengan hati yang sehat dan hidup akan berupaya meninggalkan perbuatan dosa dan memohon ampun kepada Allah.