7 Qoul Ulama Tentang Ilmu Yang Harus Kita Ketahui

7 Qoul Ulama Tentang Ilmu Yang Harus Kita Ketahui


=============================================================

1. Mengambil Ilmu dilihat dari Shalatnya


Berkata Imam Abul 'Aliyah (rohimahullah) :
"Kami jika hendak mengambil ilmu dari seseorang, maka kami melihat bagaimana sholatnya. Jika sholatnya baik, maka kami pun duduk mengambil ilmu darinya, dan kami nyatakan,"... amalannya yang lain (juga) baik". Namun apabila jelek sholatnya, maka kamipun pergi meninggalkannya, dan kami nyatakan, "amalannya yang lain juga jelek.".

2. Munafiq Yang Berilmu



قال عمر رضي الله عنه :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقُ الْعَلِيمُ،
قِيلَ : وَكَيْفَ يَكُونُ منافقاً عليماً ؟
قَالَ : عَالِمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ.
(إحياء علوم الدين, ١/٥٩)


 Berkata 'Umar rodhiyallahu'anhu :
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini adalah Orang Munafiq yang berilmu."   (Para Shohabat) bertanya : "dan bagaimana bisa seseorang itu menjadi Munafiq yang berilmu ?" Beliau berkata (menjawab) :
"(yaitu) orang yang pandai bicaranya (layaknya seorang 'alim), (namun) jahil hati dan perilakunya."
(Ihyaa' Ulumiddin, 1/59)


3. Belajar Untuk Diam Jika Bicara Tidak Membimbingmu



Abu adz-Dzayyal rohimahullah berkata :

تعلم الصمت كما تتعلم الكلام، فإن يكن الكلام يهديك، فإن الصمت يقيك، ولك في الصمت خصلتان : تأخذ به علم من هو أعلم منك، وتدفع به عنك من هو أجدل منك.


"Belajarlah diam seperti engkau belajar bicara, karena jika bicara tidak membimbingmu, maka sesungguhnya diam akan menjaga dirimu, dan dengan diam engkau akan mendapatkan dua hal; dengannya engkau bisa mengambil 'ilmu dari orang yang lebih berilmu darimu, dan dengannya engkau bisa menolak keburukan orang yang lebih pintar debat dari dirimu."


4. Dunia Tidak Akan Tegak Tanpa Empat Hal


قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه لجابر بن عبد الله الأنصاري :
قوام الدنيا بأربعة :
١. بعالم يعمل بعلمه ،
٢. وجاهل لا يستنكف من تعلمه ،
٣. وغني لا يبخل بماله ،
٤. وفقير لا يبيع آخرته بدنياه ،
فإذا لم يعمل العالم بعلمه استنكف الجاهل من تعلمه،
وإذا بخل الغني بمعروفه باع الفقير آخرته بدنياه،
فالويل لهم والثبور سبعين مرة.


Berkata 'Ali ibn Abi Tholib rodhiyallahu'anhu kepada Jabir ibn 'Abdillah al-Anshori :
"Dunia akan tegak dengan empat hal : 
1. Seorang 'Alim yang mengamalkan 'ilmunya,
2. Orang Bodoh yang tidak bosan untuk belajar,
3. Orang Kaya yang tidak pelit dengan Hartanya,
4. Orang Miskin yang tidak menjual akhiratnya dengan Dunia.

Apabila orang 'Alim tidak mengamalkan 'ilmunya, maka Orang Bodoh akan berhenti belajar 'ilmu. Apabila Orang Kaya pelit dengan Hartanya, maka Orang Miskin akan menjual Agamanya dengan Dunia. Maka sungguh celaka dan binasalah mereka."
(Imam Fakhruddin ar-Rozi, Tafsir ar-Rozi, 2/201)


5. Wakil Wakil Iblis


al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata :



نُواب إبليس في الأرض وهم الذين يُثبِّطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين، فهؤلاء أضرّ عليهم من شياطين الجن.


"Wakil-wakil Iblis di muka bumi, yaitu orang-orang yang menggembosi manusia dari menuntut 'ilmu dan mempelajari agama, mereka ini lebih membahayakan Manusia dibandingkan Para Syaithon dari golongan Jin." (Miftah Daaris Sa'adah, jilid 1 hlm. 160)



6. Tiga Tahap Ilmu Yang di Tempuh


العلم ثلاثة أشبار من دخل. في الشبر الأول تكبر. والثاني تواضع. الثالث علم أنه ما يعلم.


"'Ilmu itu (ada) tiga tahapan (berdasarkan) dari hasilnya. Pada tahapan awal, (ia akan) sombong. Dan kedua, (ia akan) tawadhu'. Ketiga, (ia akan) tahu (bahwa) dirinya tidaklah berilmu." (Ibnu Jama'ah, Tadzkirot as-Sami' wa al-Mutakallim fi Adab al-'Alim wa al-Muta'allim)


7. Menjadi Alim Karena Amanah Ilmunya


Berkata Abu Darda' rodhiyallahu'anhu :



لَا تَكُونُ عَالِمًا حَتَّى تَكُونَ مُتَعَلِّمًا ، وَلَا تَكُونُ بِالْعِلْمِ عَالِمًا حَتَّى تَكُونَ بِهِ عَامِلًا.


"Tidaklah (seseorang) menjadi Orang berilmu hingga (ia) menjadi Orang yang belajar (terlebih dahulu), dan tidaklah dengan 'ilmu (ia menjadi) Orang berilmu hingga (ia) menjadikan padanya amalannya (sesuai ilmunya)." (Sunan ad-Darimi, Bab man qoola : al-'ilmul-Khosyatu wa Taqwa, 296)