Al Quran Sekuler dan Diskriminasi?

Al Quran Sekuler dan Diskriminasi?

Pernyataan bahwa al-Qur’an sekuler dan diskriminasi merupakan pernyataan yang sudah lama dilontarkan orientalis Barat dan missionaris. Selanjutnya “aktivis liberal” sebagai perpanjangan tangan dari Barat mulai ikut dalam pernyataan tersebut dengan berbagai argumentasinya. pernyataan Inilah yang dilontarkan oleh seorang “tokoh liberal” baru-baru ini yang sempat mengundang perdebatan. Benarkah al-Qur’an sekuler dan diskriminasi seperti yang mereka lontarkan? Atau ini hanya semacam “uji coba” untuk mengundang reaksi umat islam; apakah bereaksi atau tidak. Sudah sedemikian parahkan pemahaman umat islam terhadap kitabnya, sehingga harus mengikuti jejak langkah Barat; termasuk dalam memahami al-Qur’an.



Memahami Makna Sekuler

Sekulerisme adalah sebuah pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan, yakni agama tidak boleh mengatur negara. Pembicaraan yang berkaitan dengan agama hanya boleh dilakukan di rumah ibadah karena agama adalah urusan privasi masing-masing. Dengan kata lain bahwasanya agama hanya sekedar hubungan individu dengan penciptanya saja. Pemahaman ini berasal dari Barat, karena kelahiran ide ini bermula pada saat raja-raja Eropa menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya dan menyengsarakan rakyat. Maka timbullah pergolakan sengit yang membawa kebangkitan bagi para filosof dan cendekiawan. Sampai akhirnya pendapat mayoritas dari filosof dan cendekiawan itu cenderung memilih ide yang memisahkan agama dari kehidupan. Demikianlah sekuler, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam dan ayat manapun dalam al-Qur’an. Karena ajaran sekuler berasal dari Barat dan tidak berasal dari ajaran Islam. Bahkan, Agama yang dianut Barat pada masa itu juga bukanlah ajaran Islam.

Bila kemudian ada  pernyataan yang menyatakan “al-Qur’an juga mengajarkan sekuler” pernyataan tersebut adalah pernyataan yang keji, pembebek Barat, dan tidak berilmu. Jika yang menjadi dalil adalah firman Allah : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (TQS. al-Qashshash [28] : 77), ayat tersebut tidak ada hubungannya dengan pemahaman sekuler, melainkan penjelasan tentang seseorang yang beribadah dapat juga menikmati hal-hal yang dibolehkan Allah Swt, dan tidak melupakan hak yang lain seperti hak istri dan mencari nafkah. Demikianlah usaha untuk memisahkan agama dari kehidupan dari orang-orang yang menganut ajaran Islam, hal ini datang bukan berasal dari agamanya, melainkan berasal dari upaya untuk menyamakan ajaran islam dengan ajaran agama yang lain. Padahal, ajaran Islam bukan hanya urusan privat, melainkan ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Berdasarkan hal ini, sebenarnya pemahaman sekuler adalah pemahaman yang masih mengakui eksistensi agama, namun hanya sekedar formalitas belaka. Karena, disatu sisi seolah-olah manusia takut terhadap Tuhan, tetapi disisi lain “Tuhan” didakwa tidak boleh masuk ke ranah publik dan mengatur kehidupan manusia.


Al-Qur’an Diskriminasi?

Penyebutan kata “kafir” dan adanya ayat-ayat yang melarang umat islam tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai wali yakni pemimpin atau teman dekat, didakwa sebagai ayat-ayat diskriminatif. Sehingga orientalis Barat dan kakitangannya mendakwa al-Qur’an sebagai kitab diskriminatif yang mengucilkan pergaulan umat islam harus dibatasi pada umat islam saja dan tidak boleh bergaul dengan orang-orang kafir. Pemahaman yang salah inilah yang menyebabkan kesimpulan yang salah, karena pemahaman tersebut tidak utuh, dilandasi oleh kebencian dan tidak memahami realita. Sehingga orang-orang yang memiliki “penyakit” dalam hatinya senantiasa mengikuti tuduhan tersebut tanpa dilandasi oleh pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat tersebut.

Allah Swt telah berfirman dalam al-Qur’an : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (TQS. al-Ma’idah [5] : 51). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu. Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”(TQS. Ali Imran [3] : 118-119).

Bila diskriminasi diartikan dengan perlakuan buruk dan pelayanan yang tidak adil, maka ayat di atas bukan berkaitan dengan perlakuan yang buruk dan pelayanan yang tidak adil, namun berkaitan dengan kewaspadaan terhadap musuh. Imam Ibnu Katsir menyatakan “Allah Swt berfirman dengan melarang hambanya yang Mu’min untuk tidak menjadikan orang Munafik sebagai teman dekat ; yaitu orang-orang yang memberitahukan rahasia dan apa yang disembunyikan kaum Mu’min kepada musuh-musuh mereka”. Jadi, kewaspadaan terhadap orang-orang kafir; baik dari kalangan Yahudi, Nashrani, Munafik dan lain-lain adalah berkaitan dengan realita. Dimana orang-orang kafir tersebut selalu menyerang umat Islam; baik dengan senjata maupun dengan fitnah dari mulutnya. Maka, setiap rahasia “negara” secara realita tidak mungkin dibocorkan pada musuh. Padahal, musuh-musuh tersebut tidak sedikit yang berasal dari dalam negara itu sendiri; sebagai kakitangan musuh. Maka ayat ini dan ayat-ayat lain bukanlah ayat-ayat diskriminasi dengan makna perlakuan buruk dan  pelayanan yang tidak adil melainkan kewaspadaan terhadap musuh yang akan menyerang dan melakukan tindakan yang menyulitkan umat Islam.

Keadilan dalam Islam

Dalam ajaran islam memang tidak dibolehkan untuk memaksa non Muslim dengan berbagai intimidasi untuk masuk ke dalam agama islam. Namun, ini bukan berarti tidak boleh berdakwah dan melakukan dialog agar seseorang menjadi penganut ajaran islam. Siapapun yang Muslim adalah saudara sesama Muslim, sebuah persaudaraan yang melebihi kekuatan dalam persaudaraan kandung. Selain Muslim, tidaklah bisa disebut “saudara seiman” walaupun tidak boleh memeras dan menganiayanya. Pertetanggaan yang dibangun juga harus harmonis walaupun tetangganya non Muslim. Demikianlah yang diajarkan Rasulullah saw sebagai suri tauladan yang telah mengamalkan al-Qur’an dengan sempurna. Pengamalan berhubungan baik dan memberikan keadilan dengan non Muslim juga telah diamalkan oleh para sahabat. Seperti kisah Umar bin al-Khaththab yang memperingatkan Amru bin Ash yang menjadi gubernur di Mesir untuk tidak menggusur rumah seorang Yahudi, walaupun untuk pembangunan Masjid.

Allah Swt berfirman : “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS. al-Maidah [5] : 8). Dan selain ayat ini, banyak ayat lain yang memerintahkan berbuat baik terhadap siapapun termasuk terhadap orang kafir. Namun, bukan berarti tidak memiliki batasan. Setiap orang boleh memiliki teman, tapi bukan berarti tidak memilih teman yang baik. Oleh karena itu islam tidak pernah memerintahkan diskriminasi dalam pengertian perlakuan buruk dan pelayanan yang tidak adil. Justru ketika Allah memerintahkan mewaspadai orang-orang kafir dan munafik, penyerangan terhadap orang kafir yang menyerang umat islam, menerapkan hukum bunuh pada pembunuhan yang disengaja, inilah yang dimaksud keadilan bila berbicara keadilan. Yang maknanya berbeda dengan kesabaran, pemberian maaf, memiliki rasa empati dan lain sebagainya. Dengan demikian, sekuler dan diskriminasi bukan berasal dari al-Qur’an, melainkan berasal dari ide sekuler Barat itu sendiri. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Penulis Muhammad Fatih Al Malawy (Mudir Ma'had Ats Tsaqofiy)