Begini Cara Bahagia Itu

Begini Cara Bahagia Itu

Hari ini aku buat Status yang sangat sederhana dan umum disebutkan orang di Facebook begini kalimatnya "Kebahagiaan itu tak bisa di beli !" 

Ada beberapa kawan komentar, ada juga yang sekedar like. Menarik yang kulihat adalah komentar dari salah seorang temen namanya Fras An komentarnya sih sederhana, sesederhana status juga. Katanya, 'Dibeli dengan ketaatan pada Allah bukan yg lain".

Aku piker kalimat ini hanya kalimat pengulangan dari apa yang sudah sering di sampaikan orang lain di berbagai kesempatan. Bisa ratusan, ribuan atah bahkan jutaan kali. Namun ntah apa sebab akhir akhir ini aku jarang mendengarkan kalimat ini kembali ya. Ntah karena soal pergaulan, ntah karena jauhnya hati ini pada Allah.. Astagfirullah..

Namun, akhir akhir ini aku malah sering mendengar kata kata seperti yang aku ucapkan tadi "Kebahagiaan itu dapat tak dapat di beli". Aku dengar dari beberapa youtuber. Khususnya para artis artis yang hartanya sudah melimpah ruah. Dalam berbagai kesempatan , mereka selalu  menegaskan bahawa bahagia itu bukan pada harta, tapi pada keluarga. 

Benar tidak sebenarnya mereka memaknai bahagia? atau ini hanya kamuflase? 
Sepertinya jawaban itu tidak penting. Kebenaran dan perasaan mereka apa sebenarnya dengan kata bahagia. Karena ini soal hati. Namun dalam tulisan ini saya cuma mau ajak berlogika sedikit soal kata kata bahagia itu, sehingga kita bisa menemukan maknanya sendiri - dan dari sana kita bisa mendapatkannya. 


Okelah kita mulai dari makna. 

Ada banyak makna dari kata 'bahagia' di dunia ini. Semua orang berhak mendefinisikan bagaiaman ia bisa bahagia. Sama seperti cinta dan mencintai. Dari jaman nabi Adam hinga kini cinta itu definisinya tak terhitung jumlahnya. 

Kalau kata bahagia, paling tidak berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan : keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).  Dari sini kita bisa melihat bahwa bahagia itu memang urusan hati yang tidak dapat di terka tidak dapat di baca dengan hanya melihat raut muka. 

Bahagia itu soal hati. Bahagia itu soal bagaimana cara kita mendapatkan ketenangan. Bahagia itu bagaimana kita tidak galau, tidak gundah dan tidak merasa sulit. Bahagia itu ini itu.. Bahagaia itu.. bla bla bla... 

Kalian bisa definisikan sendiri soal kata bahagia dan bagaimana kalian akan mendapatkan bahagia. 

Namun tak salah jika kita merujuk pada pendapat orang yang lebih berilmu dari kita. 

Sebagai muslim, aku coba ulas sedikit pendapat ulama soal bahagia. 

 kebahagiaan pada dasarnya merujuk pada salah satu kata dalam bahasa Arab yang disebut sa’adah. Sa’adah adalah kata bentukan dari suku kata sa’ada, yang berarti bahagia.

Definisi bahagia, dalam tradisi ilmu tasawuf, seperti yang disampaikan Imam al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental Ihya Ulumiddin, merupakan sebuah kondisi spiritual, saat manusia berada dalam satu puncak ketakwaan. Bahagia merupakan kenikmatan dari Allah SWT. Kebahagiaan itu adalah manifestasi berharga dari mengingat Allah.

Menurut tokoh bergelar Hujjatul Islam ini, puncak kebahagiaan manusia adalah jika ia berhasil mencapai tahap makrifat, telah mengenal Allah SWT. Ketahuilah, katanya, kebahagiaan datang bila kita merasakan nikmat dan kesenangan. Kesenangan itu menurut tabiat kejadian masing-masing.

Kesenangan mata ialah melihat rupa yang indah. Kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu. Demikian pula semua anggota tubuh yang lain dari tubuh manusia. Adapun kenikmatan hati ialah teguh makrifat kepada Allah. Hati itu dijadikan untuk mengingat Tuhan.

Allah SWT sudah mengingatkan, andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertakwa maka pasti akan dibuka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ajaran-ajaran Allah. Maka Allah mengazab mereka karena perbuatan mereka sendiri (QS al-A’raf [7]: 96).

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Allah memberikan kepada mereka pakaian, kelaparan, dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS an-Nahl [16]: 112).

Sebuah syair dalam bahasa Arab menyebutkan, “Wa-lastu araa as-sa’adata jam’u maalin wa-laakin at-tuqaa lahiya as-sa’iidu.” Artinya, kebahagiaan bukanlah mengumpulkan harta benda, tetapi takwa kepada Allah.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa Bahagia itu ketika kita taqwa. Taqwa itu puncak dari kemuliaan manusia di muka bumi ini. Maka pantaslah apa yang disebut dalam teman facebook saya Fras An bahwa Bahagia itu dapat dibeli dengak ketaatan pada Allah, bukan yang lain. 

Akhir kalam, sebagai manusia yang mengharapkan kebahagiaan dunia akhirat karena itu sebagai kebutuhan dasar kita, maka konsekuensi ketaatan adalah Ibadah. Karena dengan Ibadah kita telah menjalankan tujuan penciptaan kita. Sebagaimana Allah berfirman "
Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata tentang hal ini, “Sungguh, bila hati telah merasakan nikmatnya ibadah kepada Allah dan ikhlas pasa-Nya, maka tidak ada yang lebih manis, kezat, nikmat, dan nyaman baginya (selain beribadah)”.  Wallahu a’lam. 

Bang Bara