Buletin Remaja Teman Surga : DARI REMAJA UNTUK DUNIA

Hai remaja, apa kabarmu dalam ‘dekapan’ pandemi

Corona? Masihkah berselimut saat sinar matahari pagi menyapa? Masihkah rebahan di tengah ketidakpastian yang melanda dunia? Atau tengah berupaya mengambil peran sebagai agen perubahan untuk kebaikan seluruh umat manusia?

Apapun yang kamu lakukan, akan berpengaruh pada masa depan. Nggak cuman untuk diri sendiri, tapi juga masa depan bangsa dan negara. Iya dong, karena waktu akan terus berganti. Peralihan generasi tak bisa kita hindari. Tongkat estafet Kepemimpinan negeri ini pada akhirnya akan sampai pada kita selaku generasi muda ibu pertiwi. Siap?

Remaja Sebagai Agen Perubahan


Peran pemuda sebagai agen perubahan itu udah bawaan dari lahir. Sejarah dunia mencatat, generasi pertama umat terbaik yang menghantarkan peradaban Islam yang mulia menguasai dunia adalah para pemuda. Lima dari sepuluh orang yang pertama kali masuk Islam adalah merek yang berusia belia, diantaranya Ali bin Abi Thalib pada usia 10 tahun,Thalhah bin Ubaidillah 14 tahun, Said bin Zaid 15 tahun, Zubair bin Awwam 16 tahun dan Saad bin Abi Waqqash 17 tahun

Dalam sejarah ketinggian peradaban Islam berikutnya, terukir dengan tinta emas nama Muhammad al-Fatih. Pemuda Penakluk Konstantinopel, ibukota Romawi Timur (Bizantium). Thariq bin Ziyad yang membuka jalan dakwah Islam ke Eropa melalui penaklukan Andalusia. Juga Muhammad bin al-Qasim at-Tsaqafi, pemuda belia yang berhasil menaklukkan India, Pakistan, Bangladesh, dan Kashmir ke dalam pangkuan Islam.


Prestasi Remaja Muslim Milenial


Masa remaja adalah masa kehidupan yang indah dan penuh warna. Saat remaja yang lain sibuk dengan aktivitas bersosial media, tren fashion dan lain sebagainya, remaja muslim berikut ini memilih untuk menggunakan waktu mereka secara maksimal untuk berkontribusi positif pada dunia.


Mohamad Al Jounde


Mohamad Al Jounde
Mohamad Al Jounde adalah seorang remaja muslim asal Suriah yang tidak bisa bersekolah lalu hijrah ke Libanon karena peperangan

di tanah kelahirannya kian memburuk. Bersama keluarganya, Mohamad mendirikan dan membangun sebuah sekolah di kamp pengungsian di Lebanon untuk anak-anak pengungsi perang Suriah.

Mohamad pun mulai mengajarkan matematika dan fotografi pada anak-anak pengungsi Suriah tersebut saat dia berusia 12 tahun. Mohamad berhasil membantu anak-anak pengungsi Suriah lainnya untuk memperoleh pendidikan dan sembuh dari rasa trauma mereka akibat perang mlalui berbagai permainan yang menyenangkan dan fotografi.

Usaha Mohamad yang luar biasa tersebut membuatnya berhasil meraih penghargaan International Children's Peace Prize tahun 2017 di usianya yang ke-16 tahun atas kontribusinya untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak pengungsi. Pada bulan Januari silam, Mohamad juga berkesempatan untuk menjadi salah satu pembicara terkait isu migrasi di World Economic Forum 2020 di Swiss.

Rizka Raisa Fatimah Ramli


Rizka Raisa Fatimah Ramli adalah remaja muslim asal Kota Makassar, Indonesia yang hobi menggambar sejak kecil. Bakat menggambar dan kepekaannya terhadap fenomena bullying yang sering terjadi di sekolah dan di berbagai tempat membuat Rizka memutuskan untuk mengikuti UNICEF Comic Contest tahun 2018 yang mengusung tema End Violence (Hentikan Kekerasan).

Desain karakter superhero Cipta yang dibuatnya pun berhasil menjuarai ajang UNICEF Comic Contest 2018 di usianya yang ke-17 tahun setelah berhasil menyisihkan

lebih dari 3.000 karya dari 130 negara. Rizka juga berkesempatan untuk membuat sebuah buku cerita tentang End Violence (Hentikan Kekerasan) bersama-sama tim UNICEF untuk dibagikan ke ratusan sekolah di berbagai negara. Selain itu, Rizka juga turut hadir dalam peluncuran bukunya yang diadakan di sidang PBB di Amerika Serikat.

Shofi Latifah Nuha Anfaresi


Shofi Latifah Nuha Anfaresi adalah seorang peneliti muda  asal Bangka Belitung,Indonesia. Ketertarikan Nuha dalam bidang sains dan permasalahan air bersih di daerah tempat

tinggalnya yang merupakan daerah penghasil timah mendorongnya untuk merancang suatu teknologi yang dapat membantu masyarakat sekitar mendapatkan air minum  yang bersih dan sehat.

Pada tahun 2016, penelitian dan inovasi Nuha dalam menemukan invensi filter pasir di daerah Bangka untuk mengurangi pencemaran lingkungan karena timah saat dia masih duduk di bangku SMA, membuatnya terpilih sebagai salah satu bintang film dokumenter yang berjudul "Inventing Tomorrow" yang diproduksi oleh IQ190 Productions.

Selanjutnya, inovasi dan penelitiannya serta film dokumenter tersebut juga turut mengantarkan Nuha menjadi salah satu perwakilan Indonesia di ajang the Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) tahun 2017 di Los Angeles, Amerika Serikat.

Masa remaja adalah masa yang tak akan pernah terulang, so isilah hari-harimu dengan melakukan berbagai kegiatan positif sesuai bakat dan minatmu!


Mengukir Prestasi Sejak Dini


Sebuah ukiran kayu yang indah, bernilai seni tinggi dan tentunya harganya juga mahal, berawal dari sebatang kayu yang awalnya diukir sedikit-demi sedikit sesuai pola. Seperti itulah masa depan kita yang gemilang. Nggak kejadian gitu aja. Sim salabim langsung ada. Selalu dimulai dengan langkah pertama yang mengawalinya.

Prestasi para ilmuwan Islam mulai diukir saat usia mereka belia. Seperti penuturan Imam Syafi’i. “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku. Aku menghafal Al-Quran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Al-Quranku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Hal yang sama kita temukan pola suksesnya pada Muhammad al-Fatih.

“Pemuda ini awalnya sulit untuk diandalkan oleh ayahnya. Kebiasaan hidup mewah menjadikannya anak yang manja. Dia selalu berlindung di balik kebesaran sang ayah sehingga menyulitkan para ulama yang didatangkan untuk mendidiknya. Hingga akhirnya kelembutan dan ketegasan dua ulama besar berhasil menundukkannya, Syeikh Aaq Samsuddin dan Muhammad Ismail Al-Qurrani. Di tangan sang guru dia belajar banyak hal, berhasil menghafal Al-Quran dan menguasai ilmu lainnya. Di usianya yang 14 tahun dia menjadi pemuda yang cerdas dan taat beragama. Menguasai 7 bahasa ketika berumur 23 tahun, semenjak baligh hingga meninggal tak pernah meninggalkan rawatib dan tahajjud, menaklukan Konstantinopel sebagai janji Rasulullah Saw, pada usia 24 tahun”.

Lantas, bagaimana kita bisa mencontoh Imam Syafi’i atau Muhammad Al-Fatih dalam mengukir prestasi sejak dini? Berikut beberapa karakter yang mesti kita miliki.

Pertama, visioner dunia akhirat. Berprestasi bukan untuk mengejar medali. Bukan juga berharap riuh tepuk tangan dan decak kagum dari penduduk bumi. Bagi kita sebagai seorang muslim, mengukir prestasi adalah bagian dari usaha kita menjadi pribadi yang bermanfaat di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat.

Sekeren apapun prestasi yang kita ukir, kalo cuman mentok di dunia aja, rugi yang ada. Apalagi kalo sampai mengorbankan harga diri kita sebagai seorang muslim atau melalaikan kewajiban kita sebagai hamba Allah swt, tekor dunia akhirat.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengingatkan kita, “Tak ada istilah keberuntungan jika sesudahnya neraka, dan tidak ada istilah kesialan jika sesudahnya adalah surga.”

Karena ridho Allah yang kita kejar dalam berprestasi, jagain niat itu jangan sampai ambyar oleh pesona dunia dan popularitas yang menggoda.

Kedua, Pembelajar. “Siapa yang ingin sukses dunia dan akhirat, ia berkewajiban memburu ilmu.” (Sufyan Ats-Tsauri)

Masa muda itu saat yang pas untuk menuntut ilmu. Kekuatan jiwa muda dan semangat yang membara, bisa jadi modal utama untuk terus belajar. Mau tatap muka atau berselancar di dunia maya, nggak masalah. Lanjut aja. Gaspol. Karena ilmu bisa kita timba, apapun medianya. Wabah corona jangan sampai bikin kita mati gaya. Era pandemi bukan alasan kita berdiam diri. Keep learn, grow and fun!

Imam Syafi’I mengingatkan kita, “Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan iman dan takwa”. (Imam Syafi’i, dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Shalihan).

Ketiga, Produktif. “Bagaimana mungkin engkau mendapat hal luar biasa, sementara engkau belum mengubah kebiasaan burukmu?” (Ibnu ‘Athillah)

Salah satu kebiasaan buruk yang menjangkiti remaja adalah menyia-nyiakan waktunya yang berharga. Mentang-mentang Corona dan banyak di rumah aja, jadi malas-malasan. Bawaannya pengen selalu rebahan. Waktunya banyak dihabiskan untuk main game online, nonton manga, atau mantengin setiap episode drama Korea. Seolah tak ada aktifitas fisik lain yang bisa dilakukan untuk merajut asa masa depannya. Agar bisa menebar manfaat di dunia dan menabung pahala untuk di akhirat.

Ini yang bikin bete Abdullah bin Mas’ud, “Saya sangat muak kepada orang yang statusnya nganggur, tak beramal untuk akhirat, tak juga untuk dunia.”

Konversi setiap detik yang kita lalui menjadi kegiatan produktif yang bermanfaat untuk menimba ilmu, menambah pahala, dan mengasah skill.

Keempat, Mental sukses. Nggak baperan ketika menghadapi kegagalan. Tak mudah putus asa saat rute menuju kesuksesan di masa depan itu curam, berliku, dan dipenuhi onak duri sepanjang jalan. Karena kenyamanan besar tak bisa diraih selain dengan jembatan kelelahan.

Kita bertanggung jawab penuh terhadap masa depan gemilang yang ingin kita ukir. Kalo gagal, jangan nyalahin orang lain. Tapi evaluasi sambil terus memperbaiki diri sebelum melanjutkan kembali usaha yang udah kita jalani. Karena cermin hasil, hanyalah ada pada orang yang pernah melakukan tindakan. Bukan mereka yang hanya bisa berpangku tangan.

Memang bukan jaminan kalo empat karakter di atas bakal bikin kita sukses di masa depan. Tapi bukan berarti tak ada pengaruhnya sama sekali. Karena kalo kita kepoin kisah para remaja yang berprestasi tingkat dunia, empat karakter di atas sering kita temukan dalam diri mereka. Nggak ada salahnya kita ikutin jejak kesuksesan mereka. Dari remaja untuk dunia[]

Buletin – Remaja Teman Surga Edisi 121 / Juli 2020 
Baca Juga