Disebut Tidak Punya Akhlak Aku Bangkit

Disebut Tidak Punya Akhlak Aku Bangkit

Ilustrasi Bangkit
Kemaren aku sempat galau karena dikeluarkan secara tidak hormat dalam group whatsApp reseller sebuah produk digital.

Itu artinya putuslah akad ku dengan pemilik usaha/modal.

Karena aku merasa tidak bersalah, aku japri  admin sekaligus pemilik usaha.

Kutanyaa padanya, apa salahku kenapa dikelurkan dalam group? dia menjawab "Karena Antm Tidak punya AKHLAK, Saya malas Chat dengan Antm".

Baca Juga : Banyak Tertawa, Bukan Ciri Ciri Orang Sukses !?

Sontak aku merasa ini sebuah pukulan telak yang sangat menyakitkan sebagai seorang muslim. Bagaimana tidak, Akhlak bagi seorang muslim itu adalah perkara penting namun dia menuduhku tak punya akhlak.

Sejenak aku Istighfar dan muhasabah diri dengan kejadian itu. Ku coba ingat ingat apa salahku dan apa yang menjadi alasan dia kenapa demikian lancang mengatakan kalau aku tak punya akhlak. Namun hingga kini aku tak mendapatkan jawabanya.

Tapi aku tak mau berlarut soal kenapa, karena istighfar dan muhasabah diri bagiku sudah cukup.

lalu aku hanya berbaik sangka saja padanya dan 'menyalahkan' diriku sendiri soal cara berkomunikasi.

Mungkin saja cara komunikasiku tidak menyenangkan baginya. Mungkin saja dia tidak begitu faham apa yang kumaksud?

Atau mungkin saja dia sedang tidak enak badan atau dia sedang stress saat melihat chatku. Semua imbasnya pada tuduhan yang tak beralasan itu.

Namun dengan berbagai alasan  ku tutup persoalan itu dalam hati. Aku ga mau kalah dengan ego, dan aku ga mau berlarut dengan situasi ini.

Akhirnya  kuputuskan untuk menyampaikan kejadian itu pada istriku sebagai tempat berbagi suka dan duka selama ini. Dan kesimpulan dari diskusi itu, aku akan ringkas beberapa point saja.

Pertama, perthatikan ulang asal muasal peserta Group WhatsApp

Kita kadang lupa atau tidak perduli darimana saja peserta group GWA kita. Kita harus fahami beda daerah beda gaya komunikasi. Aku dari Medan misalnya tentu saja beda dengan gaya komunikasi orang di Jawa, kalimantan sulawesi dll. Bisa jadi tuduhan karena aku tak berakhlak, adalah tuduhuan soal salah gaya komunikasi.

Karena gaya komunikasiku yang terlalu agresif atau ada pilihan kata yang tajam dan menohok dianggab mereka tidak sopan atau tidak berkakhlak. Intinya beda daerah beda rasa menilai sebuah komunikasi.

Kedua, Semua harus di Syukuri. Bahwa setiap kejadian ada hikmahnya setiap sesuatu yang diluar kemampuan kita adalah kehendak Allah.

Akhirnya aku menyadari bahwa cobaan hakekatnya sebuah jalan untuk kita bisa melatih hati dalam rasa sabar dan rasa Ikhlas. Nah kembali kepada topik bahwa aku dikeluarkan dari group sudah menjadi qadhanya Allah, maka aku harus bersyukur dan mengucapkan Alhamdulillah. Aku ikhlas dan aku akhirnya belajar sabar. Karena dengan ini aku menjadi lebih fokus pada usaha utamaku. Atau dengan ini aku akhirnya menjadi tau bahwa siapa yang bisa di jadikan kawan siapa yang tidak.

Dan dari sini aku semakin tau, bahwa hdiup itu harus bergerak tak boleh diam. Dan syukurnya juga,  kejadian itu punya Ide membuat tulisan ini.

Sekecil apapun kejadian yang menimpa kita, pantaslah untuk disyukuri agar kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia. Kini, aku juga lebih tenang, karena akhirnya ku tau bukan itu jalanku suksesku.

Ketiga, Sukses itu tergantung diri sendiri, bukan tergantung orang dilingkungan kita.
Dahulu aku berfikir, bertemanlah dengan orang orang suksek kalau mau jadi sukses. Aku pikir ini bukan faktor utama. Faktor utama setelah diskusi dengan istriku ternyata adalah diri sendiri. Istri, anak, orang tua, rekan, teman, tetangga, itu semua bukan inti dari sumber kesuksesan. Itu hanya pemicu sesaat yang hanya akan menjadikan kita bermanja dan lupa melalui proses. Itu hanya membuat kita menjadi orang yang berfikir instan.

Dari kejadian itu, aku akhirnya menyadari bahwa kesuksesan itu tidak ada kaitannya dengan orang orang yang disekitar kita. Jikapun mereka menjadi pemicu semangat maka itu bonus saja, tapi bukan faktor utama dalam meraih sukses. Berharap pada manusia kita pasti penuh kecewa. Walau aku belum dapat dikatakan sukses dalam arti materi, namun aku yakin inilah cara Allah untuk menghantarkanku pada kesuksesan.

Akhirnya aku berucap, terimakasih kepada Istriku yang sangat baik hati telah medampingiku dan menjadi tempat berbagi dan terimakasih kepada admin, telah mengeluarkanku dari Group Reseller itu. Terakhir aku mengingat apa yang disampaikan oleh Imam Syafii.

"Kata-kata orang tentang Anda ibarat batu. Bisa Anda pikul (masukkan hati), maka punggungmu akan patah.Tapi, bisa Anda pakai sebagai pijakan, yang dengannya Anda akan tinggi, dan menang (sukses)." Imam Syafii. Hadana-Llah wa Iyyakum!

Bang Bara
15 Juli 2020