Hukum - Hukum Terkait Hewan Qurban

Hukum - Hukum Terkait Hewan Qurban

Beberapa Hukum Terkait Hewan Qurban
(Waktu pelaksanaan, pemanfaatan ,batas penyimpanan dan pembagian daging qurban) 


Oleh : Muhammad Fatih al - Malawiy
( Mudir Ma'had ats - Tsaqofiy )

Ibadah qurban merupakan ibadah sunnah muakkad yg diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasul - Nya saw, demikian pula tatacara pelaksanaannya pun sudah menjadi ketentuan syariah.

Pertama , penyembelihan hewan qurban dilaksanakan pada tanggal 10 dzulhijjah (hari raya idul adha) dan tanggal 11, 12, 13 dzulhijjah sebelum masuk maghrib (hari - hari tasyriq), dan penyembelihan tidak sah bila dilakukan sebelum sholat idul adha.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw :

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ


“Barangsiapa menyembelih qurban sebelum sholat Idul Adha (10 dzulhijjah) maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih qurban sesudah sholat Idul Adha, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya (berqurban) dan telah sesuai dengan sunnah (ketentuan) Islam.” (HR. Imam Bukhari no. 5556, HR. Imam Muslim no. 1961).

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيُعِدْ


“Barangsiapa yang menyembelih (qurban) sebelum shalat id, maka hendaknya dia ulangi (qurbannya).” (HR. Imam Bukhari no. 954)

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى ، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ


Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat (idul adha), dia harus mengganti hewan qurbannya dengan yang lain. Dan siapa yang belum menyembelih qurbannya, hendaknya dia menyembelih (setelah sholat idul adha) . (HR. Imam Ahmad no.19311, dan Imam Bukhari no.5562)

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ


“Semua hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah waktu untuk menyembelih qurban.” (HR. Imam Ahmad no. 16797 dan Ibnu Hibban no. 3854)

Menyembelih qurban sebaiknya pada siang hari, bukan malam hari pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan itu. Menyembelih pada malam hari hukumnya sah, tetapi makruh. (lihat Imam asy-Syafi'i, kitab al - Umm 2/239, an-Nawawi, al-Majmu'  8/388).

Kedua, hewan qurban atau dana yang dijadikan untuk qurban tidak boleh dijadikan upah (lihat Imam an-Nawawi, al-Majmu' 8/419, al-Mawardi,  al-Hawi al-Kabir 15/120) dan apapun yang terkait dengan hewan qurban (bagi yang berqurban) haram menjualnya.

Hal itu sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Ali bin Abi Thalib RA :

عن عليٍّ رَضِيَ اللهُ عنه قال : أمَرَني رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أن أقومَ على بُدُنِه، وأن أتصَدَّقَ بلَحْمِها وجُلُودِها وأَجِلَّتِها، وأنْ لا أعطِيَ الجزَّارَ منها، قال: نحنُ نُعطيه مِن عِندِنا .


"Rasulullah SAW memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku menyedekahkan daging, kulit, dan jilal-nya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, 'Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri'" (HR. Imam Bukhari no. 1716, HR. Imam Muslim no. 1317).

Sedangkan haram Menjual kulit hewan, berdasarkan pendapat jumhur ulama (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352). Dalilnya sabda Nabi SAW:


وَلَا تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْيِ وَالْأَضَاحِيِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلَا تَبِيعُوهَا


“Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (qurban orang haji) dan daging qurban. Makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, dan jangan kamu menjualnya…(HR. Imam Ahmad no.16311)

Terhadap larangan menjual kulit hewan qurban sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, para ulama di antaranya al-Auza‘i, Imam Ahmad Abu Tsaur dan juga madzhab Syafi’i mengatakan bahwa dibolehkan menjual kulit hewan qurban sepanjang hasil penjualan itu ditasharufkan (dikelola) untuk kepentingan qurban (Muhammad asy-Syaukani, Nailul Authar, Juz III, halaman 202).

(من باع جلد أضحيته فلا أضحية له) أي لا يحصل له الثواب الموعود للمضحي على أضحيته


“Barangsiapa yang menjual kulit qurbannya, maka tidak ada qurban bagi dirinya). Artinya dia tidak mendapat pahala yang dijanjikan kepada orang yang berkurban atas qurbannya,” (HR Imam al - Hakim dalam kitab Faidhul Qadir, juz 6, halaman 121).

 Ketiga, batas waktu penyimpanan dan pembagian hewan qurban; yakni tidak berbatas waktu untuk disimpan, afdholiyyah dibagikan pada hari raya idul adha dan hari - hari tasyriq, jika untuk dibagikan.

Berdasarkan hadits Rasulullah  Saw :

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ ...

"Dulu aku melarangmu berziarah ke kuburan, tapi sekarang kamu boleh berziarah, dan dulu aku melarangmu makan daging kurban lebih dari tiga hari, tapi sekarang kamu bisa menyimpannya selama yang kamu inginkan ... " (HR Imam Muslim no. 1977).


عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ ‏"‏‏.‏ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قَالَ ‏"‏ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا ‏"


 "Dari Salamah bin Al-Akwa' ia berkata, : "Rasulullah SAW bersabda: "Siapa saja yang menyembelih hewan qurban tidak seharusnya menyimpan daging setelah tiga hari." Ketika sampai di tahun berikutnya, orang-orang bertanya, "Ya Rasulullah SAW haruskah kita lakukan seperti tahun kemarin?" Rasulullah SAW berkata, "Makanlah, berikan pada yang membutuhkan, dan simpanlah di tahun itu untuk mereka yang mengalami kesulitan dan ingin kamu tolong." (HR Imam Bukhari no. 5249, Imam Muslim no. 1974).

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

« يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ لاَ تَأْكُلُوا لُحُومَ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ». فَشَكَوْا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ لَهُمْ عِيَالاً وَحَشَمًا وَخَدَمًا فَقَالَ : « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَاحْبِسُوا أَوِ ادَّخِرُوا » رواه مسلم

“Wahai penduduk kota Madinah, Janganlah kalian makan daging qurban melebihi tiga hari”. Mereka mengadu kepada Rasulullah Saw. bahwa mereka memiliki keluarga, sejumlah orang (kerabat) dan pembantu. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “(Kalau begitu) silakan kalian memakannya, memberikannya kepada yang lain, menahannya atau menyimpannya.” (HR. Imam Muslim no.1973).

Dari Abdurrahman bin Abis dari ayahnya, bahwa beliau pernah bertanya kepada A’isyah ra., Benarkah Rasulullah Saw. pernah melarang makan daging qurban lebih dari 3 hari?’ A’isyah ra. menjawab :

مَا فَعَلَهُ إِلاَّ فِى عَامٍ جَاعَ النَّاسُ فِيهِ، فَأَرَادَ أَنْ يُطْعِمَ الْغَنِىُّ الْفَقِيرَ ، وَإِنْ كُنَّا لَنَرْفَعُ الْكُرَاعَ فَنَأْكُلُهُ بَعْدَ خَمْسَ عَشْرَةَ


"Beliau hanya melarang hal itu karena kelaparan yang dialami sebagian masyarakat, sehingga beliau ingin agar orang yang kaya memberikan makanan (daging qurban) kepada orang miskin. Karena kami pernah menyimpan dan mengambil daging paha kambing, lalu kami memakannya setelah 15 hari. (HR. Imam Bukhari 5107).

Imam Ibnu Hajar al-asqalani dalam kitab Fathul Bari (9/463) menyatakan :

وفي وجود ذلك ثلاثا مطلقا دلالة على جواز تناوله وإبقائه في البيوت ... 


"adanya pernyataan tentang tiga ( hari ) itu menunjukkan secara mutlak, bahwa hal ini menjadi dalil bolehnya (menyimpan) lebih dari tiga hari dan menyimpannya di dalam rumah, ... " 

Afdholiyyahnya daging qurban dibagikan pada saat hari raya idul adha dan hari-hari tasyrik, karena hari-hari tersebut adalah hari -hari dimana setiap orang layaknya bergembira serta hari - hari makan dan minum serta haram melakukan puasa. Maka, menggembirakan orang dengan pembagian hewan qurban pada hari - hari tersebut merupakan perbuatan yang memiliki keutamaan lebih dibanding dari hari yang lainnya.

sedangkan pembagian hewan qurban Sunnah (bukan nazar) boleh dibagi 3, yakni 1/3 untuk yang berqurban, 1/3 untuk hadiah, dan 1/3 untuk disedekahkan pada kaum faqir atau miskin. Namun, lebih utama menyedekahkan semuanya kecuali sesuap atau beberapa suap untuk mengambil keberkahan qurban. (lihat asy - Syaikh Muhammad bin Qosim al - Ghazi, Fathul qarib hal. 63). Dan hendaknya yang dimakan adalah hatinya dan tidak lebih dari tiga potong (lihat asy - Syaikh Zainuddin al - Malibari, Fathul Mu'in hal. 63).

Wallahu a'lam bi ash - Shawab.