Inspirasi dari MTQ Online Nasional El Jadid : Indahnya Seni Membaca Al Quran


Dimasa pendemi seperti sekarang ini, banyak orang akhirnya kreatif.  Kreatif dalam berkarya, juga kreatif dalam menyampaikan syiar. Untuk soal menyampaikan syiar, sepertinya pantas kita sebut untuk El Jadid shalawat yang beberapa hari lalu sukses melaksanakan MTQ Nasional Online. Kenapa, karena El Jadid Shalawat adalah grup shalawat dari Medan telah sukses menyelenggarakan MTQ nasional Online ke dua, setelah stasiun TV Indosiar. sabtu 27/6/2020 dengan alat yang seadanya. 

Salah satu peserta yang tampak dari ruang operator


Bayangkan,  El Jadid mampu mengumpulkan 200'an Qori dan Qoriah se Indonesia hanya dalam waktu dua minggu sejak dibuka masa pengumuman. Mereka lakukan tanpa beriklan di TV dan Sosial media. Untuk menjaring peserta dari berbagai daerah, mereka hanya bermodalkan pada jaringan jaringan kontak WhatsApp dan akun facebook masing masing personil. Disamping itu, acara yang dikemas secara virtual ini juga akhirnya bisa berjalan baik walau bukan dengan fasilitas super mewah. Ditambah lagi, sebelumnya mereka disambut baik oleh salah satu kenalan mereka pemilik Travel Darul Umroh Bapak Muhammad Abduh. Ia yang bersedia memberi hadiah berangkat Umroh gratis untuk Juara Pertama Qori Pria dan Wanita .

Aku sendiri bukan termasuk orang El jadid, tapi aku saat Semifinal dan Final di ajak mereka untuk menjadi operator dan moderator IT. Menjadi orang dibalik layar ikut berkontribusi agar acara itu bisa disaksikan khalayak melalui Live Streaming Youtube. 



Saat aku menjadi operator di tiga hari berturut turut bersama El jadid, tentu saja aku mulai mengenal kepribadian personilnya satu persatu dengan berbagai karakternya masing masing. Bukan hanya kenal secara pribadi personil mereka, aku juga aku akhirnya tau bagaimana kekompkan mereka dalam menjalankan projek projeknya. Dan yang paling penting, aku ahirnya mengenal dunia Qori dan MTQ lebih dalam.

Sebelumnya, aku tidak tau kalau menjadi Qori itu ternyata Istimewa dan butuh latihan. Aku dulu berfikir kalau mau menjadi Qori atau Qoriah itu cuma butuh nafas panjang, tau jenis Irama  dan bisa baca Al Quran. Ternyata tidak kawan, tidak semudah itu. 

Sejak saat itu aku juga baru menyadari bahwa menjadi Qori berarti menjadi seniman. Ya seniman. Karena  Qori itu adalah orang yang membaca Alquran dengan penuh ekspresi dan penghayatan dalam menempatkan irama irama yang tepat pada satu ayat hingga orang lain yang mendengarnya mendapatkan keindahan dari setiap susunan huruf huruf dalam ayat Alquran. 

Membaca Alquran dengan Irama tertentu sambil menghayati isinya, dengan tetap menjaga kebenaran tajuid dan kejelasan huruf bukanlah perkara mudah. Bagi Qori yang sudah terlatih itu mudah namun tidak dapat di anggab sepele. Ada juga diantara mereka yang sudah profesional mampu mengkombinasian dalam satu ayat dua atau tiga Irama pokok atau turunannya.  

Perlu saya sampaikan bahwa lagu-lagu yang dianggap sebagai lagu pokok dalam seni baca al-Quran ini ada tujuh jenis.
  1 . Bayati
  2 . Shoba
  3. Hijaz
  4. Nahwand
  5. Rast
  6. Jiharkah
  7. Sika

Dengan demikian, selain lagu-lagu yang tujuh jenis ini dianggap sebagai lagu cabang, yang nantinya akan dipergunakan sebagai variasi dalam membentuk susunan atau komposisi lagu. Di antara lagu-lagu yang dianggap sebagai lagu cabang, misalnya lagu Nakriz, awsaq, zanjiran, raml, karqouk, dll.

Terlepas soal hukum yang mungkin banyak jadi perdebatan dalam MTQ, namun saya sendiri masih dapat menikmati soal betapa indahnya Al Quran jika di baca oleh Qori Qori yang profesional. Hal itu terbukti dalam MTQ tersebut, hingga dini hari aku menjadi operator IT dalam event itu, tidak ada rasa kantuk sedikitpun, karena saat menjadi operator aku menjadi menikmati lantunan ayat demi ayat lantunan yang dibaca oleh peserta. 

Memang benar, Alquran tampa di baca dengan irama irama di atas, akan tetap akan kita sebut Indah, namun dengan membaca Alquran berikut irama irama yang tepat pada setiap ayat, ditambah lagi dengan suara yang bersih sungguh sangat Indah. Bravo El Jadid, Bravo untuk peserta peserta yang menang dan yang belum menang. 

****

Ups tunggu dulu ada cerita menarik yang coba aku ringkas dari pengamatanku selama grand final dan final MTQ Online itu...


Ceritanya begini, pertama dalam acara itu ada peserta namanya Istiqomah dia adalah peserta asal Jombang Jawa Timur  yang menjadi Juara pertama dalam MTQ itu.  Dari awal aku lihat dia di semi final, ku lihat dari camera biasa saja. diantara 20 peserta yang semua kualitasnya menurutku bagus bahkan si Istiqomah ini menurutku harusnya tidak dimenangkan oleh panitia untuk masuk final. Karena waktu di semi final,  di kamera Istiqomah ini seperti kurang fokus, kamerenya di sootnya kesana kemari, kadang ke langit langit rumah, kadang hilang di kamera tampak jalan sana jalan sini. Ahirnya aku lihat kameranya selalu tidak fokus pada gambarnya. Jadi aku menilai 'orang kok ga hargai bener ya acara ini, mosok di kamera live arah kamera sana sini' Gumamku dalam hati.

Kemudian, ternyata di hari ketiga dia masuk final. Jujur saja aku mulai hambar atau mulai meragukan cara panitia menilai. Jangan jangan dalam hatiku panitia memasukkan mereka dalam final orang orang yang dekat dengan mereka secara personal namun bacaanya ga buruk buruk sekali. Karena kebetulan ada juga ada peserta yang dari Medan yang bagus juga menurut ku... Namun akhirnya siapa sangka peserta yang dari Medan pun tidak dimenangkan mereka. 

Dan benar, Subhanallah.. Istiqomah yang dimasukkan mereka dalam final itu, memang menjadi bintang di saat itu. Bacaannya bagus sekali. Suaranya khas, bersih membaca dengan Irama yang indah seali. Selepas acara aku ulang ulang lagi berkali kali memperthatikan dan membandingkan si Istiqomah membaca dengan peserta lain memang luar biasa. Dia punya banyak kelebihan dari peserta lain. Dan pantaslah dia Menang di acara itu mendapat Juara satu hadiah Umroh.

Untungnya di acara final itu, ada pertanyaan pertanyaan singkat dari MC melihat latar belakang para peserta. Dan Istiqomah ini ternyata peserta yang saat ini suaminya sedang terbaring sakit. Sehingga mungkin saja selama ini dia sibuk sana sini di depan kamera atau tidak fokus pada kamera karena sibuk juga mengurus suaminya sakit. Astagfirullah... Persepsi burukku ternyata salah. 

Dari sanalah aku tahu bahwa Juri El Jadid, benar benar profesional dalam melakukan penilainan. Karena saat itu sebenarnya mereka tidak melihat tampilan apa apa yang ada di depan camera, tapi mereka mendengar serius skill dari Qori dan Qoriah... 

Cukup sekian dulu catatan ku soal MTQ Online Nasional El Jadid Mengajarkanku Indahnya Seni Membaca Al Quran



Baca Juga