Jangan Baperan Dengan Pelanggan Jika Mau Sukses

Aku ga tau harus memulai nulis dari mana. Hari ini aku tidak percaya diri (pede) lagi untuk menulis. Semua kepercayaan diriku dalam menyampaikan pesan kepada orang lain baik secara verbal maupun non verbal hilang. Hal ini terjadi setelah kemaren malam seorang jutawan mempereteli semua kesalahanku dalam berkomunikasi. Dia bilang kalau cara komunikasiku parah, hancur berantakan dan buruk sekali dalam berbagai hal. Dia juga bilang, kalau hampir hampir tidak ada satupun dari caraku berbicara pada orang lain itu elegan dan pantas. Itulah penyebab kegagalan ku selama ini dalam bersosial dan bisnis.

Aku ga tau, apakah jika ia baca tulisan ini juga akan menambah daftar burukku dalam berkomunikasi? Ah sudahlah, kalau dipiker piker akhirnya aku malas untuk bicara dan menulis. Tapi mengingat aku juga berfikir mau maju, maka pesannya juga kepadaku kalau mau sukses janga baperan.

*
Jadi cerita begini. Kemaren sore hingga malam aku berdiskusi dengan jutawan itu selama  6 jam lebih. Disela sela waktu itu aku sambil melayani pelanggan bisnisku. Dan dia tau itu. Saat ia melihat caraku berkomunikasi pada pelanggan langsung di depannya,  menambah banyak catatannya padaku kalau aku memang harus merubah cara berkomunikasi kepada pelanggan.

Menanggapi hal itu, tentu saja aku tak mau disalahan. Terlebih lagi hampir semua orang orang yang bertemu denganku dari berbagai kalangan mengatakan kalau cara komunikasiku baik dan tak bersoal. Tapi beda menurut jutawan ini. Singkat cerita aku membenarkan semua pendapatnya.

Dari sanalah aku belajar kembali soal komunikasi. Intinya disimpulkan, sumber utama keburukan dalam beekomunikasi adalah karena kesalahan dalam persepsi kepada lawan bicara.

Tidak mungkin kita punya komunikasi yang baik pada lawan bicara, jika persepsi kita sudah keliru tentang siapakan lawan bicara kita.

Paling tidak ada beberapa prinsip/persepsi penting yg harus menjadi evaluasiku saat berkomunikasi


1. Berbicaralah sesuai dengan kebutuhan lawan bicara [Pelanggan]


Kita sering berbicara berlebihan kepada pelanggan. Niatnya sih baik, untuk menyakinkan pelanggan, namun semua ilmu yang kita miliki terkadang dikeluarkan. Semua yang ada di isi kepala disampaikan.  Padahal informasi itu tidak dia butuhkan. Dan bisajadi itu jugalah yang menjadi penyebab koreksi detail dia pada perusahaan kita da pada diri kita. Hingga akhirnya dia belum closing.

Padahal komunikasi yang baik bukalah semua semua tentang usaha dia ketahui, tapi semua semua kebaikan tentang usaha yang harusnya diketahui.


2. Jangan Baper Sama Sikap Pelanggan


Ini terkadang kita lupa, kalau baper itu bagi pebisnis tidak pantas dimiliki. Pebisnis itu, harus memiliki 3 karakter secara bersamaa. Yaitu, Idealis, Pragmatis dan Humoris. Ketiga karakter ini penting untuk menjadi pengusaha yang mau sukses. Ketiganya harus harmonis dalam berbagai situasi.

Idealis maksudnya, bahwa setiap pelanggan harus merasakan kalau usaha kita miliki konsisten pada prosedur pelayanan. Tidak mudah di dikte pelanggan. Mereka harus merasakan kalau usaha kita ini usaha serius tidak main main. Bukan sebuah usaha tempat asal tidak ada kerjaan. Semua prosedur sebagai seorang pelanggan jika ada harus dipenuhi, maka pelanggan harus penuhi.  Pelanggan memang adalah raja, tapi pelanggan tetap harus dalam koridor aturan main usaha yang kita buat.

Pragmatis maksudnya ialah berkompromi dengan keadaan dengan tetap terikat pada hukum syara. Hal ini jika produk yang kita miliki itu berbentuk projek besar (jasa) jutaan bahkan milyaran misalnya. Kita harus menyadari, semua pelanggan itu bertanya belum tentu membeli sekarang. Bisa jadi nanti nanti atau sama sekali tidak membeli. Namun pelanggan yang memulai mengontak kita, sebenarnya dia menjadi database prospek kita walau itu tidak kita ucapkan. Merka yang bermain para projek besar bukan berarti mereka tidak punya usaha lain. Jika kita sudah dikenalnya dengan kebaikan dan produk kita, jika ia  butuh sesuatu dengan pelayanan kita yang menyesuaikan dengan selera dia, maka dia akan ingat kita. Satu saat nanti jika kita sekedar bertanya akan kabarnya, maka dia sudah bisa memahami apa maksud kita.

Humoris yang berempati, maksudnya kita menempatkan diri pada posisi orang pelanggan dan kemampuan untuk melihat situasi dari perspektif orang lain dengan cara humor receh. Jangan lakukan humor yang berlebihan juga. Selera humor tiap orang berbeda. Ada yang 'receh' sekali, yang bagi kebanyakan orang dianggap tidak lucu, menurutnya lucu sekali. Ada pula yang sebaliknya, orang lain terbahak-bahak bagi seseorang bisa saja menyinggung perasaan. Hal ini penting untuk jadi perhatian.

Empati pada perasaan pelanggan juga penting. Misalnya pelanggan mengeluhkan sesuatu, maka berilah atensi pada setiap keluhan keluhanya walau itu tidak relefan dengan usaha kita.

3. Penguasaha bukanlah Marketing


Penguasa itu beda dengan marketing. Jika penguasaha itu mainsetnya bukan kepada semua orang yang dijumapai harus menjual. Ada masuk group WA langsung jualan, ada ketemu temen langsung jualan, ada ketemu kawan lama langsung jualan. Menjual bukan target utama. Target utama adalah nilai diri kita dan usaha kita itu diketahui pelanggan. Jadi walau dia belum membeli itu bukan persoalan dalam bisnis.

Terlalu jor joran dalam berjualan dan merespon balik pelanggan tanda kita tidak siap akan rezeki. Meyakini rezeki itu adalah hak Allah harus menjadi pegangan dalam berjualan. Sekali kita lupa konsep rezeki dalam berkomunikasi, maka kita akan jor joran memaksa pembeli untuk membeli produk kita.

Jadi jangan sampai muncul bahwa kita akan 'miskin' atau usaha kita akan gagal jika dia tidak membeli barang kita. 


4. Semua Orang Pelanggan. 



Setelah point satu  yakni berbicara sesuai dengan kebutuhan pelanggan dijalankan, maka sesungguhnya kita sudah menjadikan hatinya dangan hati hati kita menyatu. Anda tidak butuh berjualan sampaikan apa yang anda jual, satu saat nanti jika anda hanya bertanya kabar padanya maka ia akan tau sebenarnya anda mau jualan. Jadi kesan pertama soal bahwa kita benar benar menjadi solusi dari persoalan dia dengan jasa atau produk kita, maka sebenarnya itu sudah 99 persen closing. Tinggal soal moment saja.

Jadi memusatkan perthatian pada pelanggan dengan berbagai kebutuhannya itu penting sekali. Agar dia bisa menerima kita seakan akan bagian darinya dimana dia akhirnya jika harus memberi produknya.  Jadi ini yang disebut juga dengan loyalitas pelanggan.

Prinsip ini hanya akan berjalan kepada pengusaha yang suka memberi bukan suka meminta. 


Terakhir, Percaya diri. Percaya diri itu penting untuk menambah marwah, namun jangan sampai percaya diri ini juga menjatuhkan marwah kita. Jadilah diri kita sebagai diri yang memberi kebaikan. Semoga tulisan ini bermanfaat ya men temen..

Baca Juga