Kaum Munafiq Merobek-Robek Aturan Syari'at

Kaum Munafiq Merobek-Robek Aturan Syari'at



Ilustrasi : Kaum Munafiq Merobek-Robek Aturan Syari'at
Ditengah sistem politik dan ekonomi  kapitalis seperti sekarang ini, umat Islam kian terpuruk dari berbagai aspek. Baik dari aspek ekonomi hingga politik. Hal ini juga berimbas. Mereka terpaksa menggadaikan apa apa yang dimilikinya untuk bertahan hidup. Bukan hanya menggadaikan harta dan kehormatan, ada juga diantara mereka yang menggadaikan ilmunya. 

Jika masih menggadaikan hartanya, maka itu persoalan biasa. Namun jika sudah menggadaikan Ilmunya maka ini adalah persoalan yang serius. Orang orang seperti ini berpotensi menjadi orang yang munafik. Memanfaatkan ilmu (Islam) yang dimilikinya untuk kepentingan materi demi bertahan hidup. 


Nifak atau pelakunya disebut munafik merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya. Jika tidak ditangani sesegera mungkin akan mengakibatkan penderitanya binasa. Penyakit ini adalah penyakit yang amat menjijikkan dan mengakibatkan  penyimpangan yang amat buruk. Seorang mulim sejati tentu sangat mewaspadai penyakit akut ini, hanya saja terkadang ia tidak menyadari bahwa ternyata ia telah terjangkit penyakit ini, terutama nifak yang bersifat lahiriah.

Apa itu nifak? Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir, nifak adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Sementara itu, Ibnu Juraij mengatakan, “Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya” (‘Umdah At-Tafsir I/78).

Dalam kasus kekinian, orang orang munafik bergerila dalam kekuasaan kapitalisme. Mereka menjadi temeng eksistensi kapitalisme. Karena mereka merasa bahwa dengan menopang kapitalisme ini, mereka akan bertahan hidup. Akibatnya mereka obrak abrik syariat Islam demi kepentingan politik praktis. Demi mempertahankan kekuasaan. 



Munafik atau nifak ini berbagai macam bentuknya. 
1. Mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
2. Mendustakan sebagian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
3. Membenci Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
4. Membenci sebagian ajaran Islam, seperti mereka membenci Poligami, khilafah, dakwah, jihad, cadar, dan lainnya.
5. Merasa gembira jika melihat islam sedang dalam kondisi mundur Merasa sempit dada jika melihat agama Islam jaya. (Lihat Kitab At-Tauhid Syaikh Shalih Al-Fauzan hlm. 21)


Berkata Syaikh 'Abdul-Qodir al-Jailani :
"Wahai Orang Munafiq, keraguan telah menggantung dalam hatimu, menguasai lahir dan batinmu. Gunakanlah tauhid dan keikhlasan dalam semua keadaan, maka kamu pasti sembuh dan masalahmu akan hilang. Namun, betapa seringnya kalian merobek-robek aturan syari'at, mengoyak baju besi ketaqwaan kalian, mengurai pakaian tauhid kalian, meredupkan cahaya iman kalian, dan kalian marah kepada-Nya dalam segala perbuatan dan keadaan kalian."
(Syaikh 'Abdul-Qodir al-Jailani; Kitab Fathur-Robbani wa Faydhur-Rohmani; Bab.24)

Munafik dalam Sejarah 
Dalam sejarah Islam, sifat munafik baru muncul setelah hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah, tepatnya setelah peristiwa perang Badar. Saat itu di Makkah belum dijumpai orang-orang munafik. Yang ada justru sebaliknya, yaitu ada sejumlah orang yang menampakkan kekufuran karena acaman-ancaman yang menghujam namun sejatinya pada sanubarinya mukmin.


Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa ketika di Makkah orang-orang mukmin masih terbilang sedikit, sementara orang-orang kafir mendominasi, sehingga seakan kaum mukmin nampak lemah. Situasi ini berubah drastis ketika Allah mengizinkan kaum mukmin berhijrah dari kampung halaman mereka di Makkah menuju Madinah yang saat itu sudah banyak pula orang yang memeluk agama Islam berkat –setelah taufiq Allah- delegasi-delegasi yang Nabi utus ke Madinah sebelumnya, seperti Mush’ab bin ‘Umair, untuk mendakwahkan Islam. Di kota inilah orang-orang beriman mulai nampak jaya dan berwibawa di mata seluruh dunia serta dipertimbangkan keberadaanya. Di masa ini pun belum ada orang-orang munafik.


Kejayaan ini semakin nampak jelas setelah peristiwa perang Badar antara orang-orang beriman melawan orang-orang kafir yang dimenangkan orang-orang beriman. Dengan demikian, Allah benar-benar meninggikan syiar Islam dan pemeluknya. Mulai saat itulah orang-orang kafir berpura-pura memeluk Islam, padahal hati mereka menyembunyikan kekufuran. Inilah yang disebut orang-orang munafik.



Tentang mereka, Allah berfirman (yang artinya), “Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.’ Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dalam kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang” (QS: 2: 14-15). []