Mahar Sandal Jepit Youtuber Yudi Anggata Tak lebih dari Harga Sebungkus Rokok, Elok Tidak?


Minggu ini viral Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti. Dalam pemberitaan media, mereka sendiri mengklaim bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang. 

 
Apakah pernikahannya bahagian dari mencari sensasi di sosial media atau tidak Tentu saja ini tidak mudah untuk di justifikasi. Dan tidak penting juga untuk di bongkar. 

Namun karena viralnya informasi ini sudah menyita perhatian publik, dan bisa jadi mengispirasi banyak pria pria lain untuk memberi sandal saat maharnya dengan mencontoh Yudi, maka pantaslah kita banyak bertanya tanya. Apalagi ia termasuk Youtuber. Hanya untuk informasi. Iwan Firman Wahyudi adalah seorang YouTuber. Akun atau channel  YouTube-nya dia beri nama Yudi Anggata. Dia sudah mempunyai 23 ribu lebih subscriber. Sampai kemarin sudah 555 video yang diupload.  

Dalam kesempatan di youtube, Susanti sendiri mengatakan bahwa dia punya pengalaman 2 kali dengan mahar yang pertama itu satu juta Hutang dan yang kedua 500rb. Sepertinya dari kasus ini, tampak Susanti sebenarnya berpengalaman soal nilai mahar. Bisa jadi inilah pemicu atau pemahaman yang bagi Yudi bahwa Susanti bisa di beri mahar hanya sandal. Yang penting yang lain lainnya misalnya soal kehidupannya tidak di telantarkan.. 

Baiklah, jika kembali pada judul  elok tidak seseorang menjadikan sandal sebagai mahar?  

Kalau bicara elok tidak elok, tentu saja kita bertanya tanya. kenapa harus sandal jepit? kenapa bukan baju oblong, singlet, sapu, tusuk gigi, mancis, rokok sebatang, atau apalah.. kenapa harus sandal jepit?

Menariknya dan ini juga yang mungkin nilai berita yang bisa menjadikannya viral, kita ketahui sandal jepit adalah barang yang dinilai banyak orang sebagai identitas kekurangan materi. Sandal jepit kerap di identikkan sebagai alas kaki kelas ke dua dibanding sandal model lain atau sepatu. Walau orang kaya banyak pakai sandal jepit, tentu saja orang kaya tidak pakai sandal jepit untuk penampilan formal. 

Sandal jepit selalu di masukkan dalam sebuah penampilan non formal. Bekerja tidak mungkin pakai sandal jepit, mengikuti forum forum ilmiyah juga biasanya tidak di izinkan pakai sandal jepit. Selain Bob Sadino. Ya Alm. Bob Sadino memang sudah terlanjut di kenal sebagai miliarder, tanpa sandal jepit pun sosoknya tak diragukan lagi isi ATM dan dompetnya. Namun harus di akui, bahwa sandal jepit masih di akui banyak orang sebuah alat alas kaki idenditas ekonomi paling rendah.

Saya sendiri sering, mendengar Istilah "beli sandal jepit aja dah ga sanggub, apalagi beli sepatu?"  Jadi kita tidak mengerti modus apakah dibalik "sandal jepit" sebagai mahar?

Dalam bahasa lain bisa saja ada yang menilai, dari youtube aja perbulan bisa dapat 3-4 juta mosok memberi Istri di moment yang sakral pernikahan hanya sandal jepit? Atau nilai sakral pernikahannya tak sama dengan yang banyak di anggab orang? 

Tapi sekali lagi itu tidak begitu penting soal modus, dalam kesempatan ini saya ingin sampaikan saja beberapa pemahaman saya soal mahar dalam pandangan Islam. 


Pertama,Islam menganjurkan agar mahar seringan mungkin. Nabi SAW bersabda,”Sebaik-baik mahar, adalah yang paling ringan [bagi laki-laki].” (HR Al-Hakim, Al-Mustadrak no. 2692). Mahar boleh berbentuk benda (‘ain), atau dalam bentuk jasa (manfaat). Nabi SAW pernah bersabda kepada lelaki miskin yang akan menikah,”Carilah [mahar] walau hanya cincin besi.” Namun lelaki itu tak mendapatkannya. Lalu Nabi SAW bertanya,”Apakah kamu punya hafalan Al-Qur`an?” Lelaki itu menjawab,”Ya, surat ini dan surat itu.” Lalu Nabi SAW menikahkan lelaki itu dengan mahar berupa hafalan surat yang dia miliki. (HR Malik no. 968, Bukhari no. 4740, An-Nasa`i no. 3306, Ahmad no. 21783).

Kedua, Islam menetapkan kemiskinan bukan penghalang (mani’) bagi orang miskin untuk menikah. Menikah hukumnya boleh bagi orang miskin, tidak haram. Kepada mereka, Allah SWT berfirman (artinya) : “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS An-Nuur : 32). Imam Ath-Thabari menafsirkan ayat ini bahwa,”Kemiskinan mereka tidaklah mencegah mereka untuk dinikahkan.” (Tafsir Ath-Thabari, 19/166).

Selanjutnya, apakah mahar ini perlu disebutkan dalam akad nikah atau tidak, bisa kita temukan jawabannya dalam Syekh Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qarib (Surabaya: Kharisma, 2000), hal. 234:    

[ويستحب تسمية المهر في] عقد [النكاح] … [فإن لم يُسَمَّ] في عقد النكاح مهرٌ [صح العقد]   

Artinya: “Disunnahkan menyebutkan mahar dalam akad nikah… meskipun jika tidak disebutkan dalam akad, nikah tetap sah.”   Lebih lanjut dalam kitab Fathul Qarib dijelaskan bahwa tidak ada nilai minimal dan maksimal dalam mahar. Ketentuan dalam mahar ini ialah segala apa pun yang sah dijadikan sebagai alat tukar. Entah berupa barang ataupun jasa, sah dijadikan maskawin.

Tapi mahar disunnahkan tidak kurang dari 10 dirham dan tidak lebih dari 500 dirham. Satu dirham setara dengan 2,975 gram perak.   Dengan demikian bisa kita pahami bahwa tidak ada ketentuan minimum tentang mahar, bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyatakan bahwa sebentuk cincin terbuat dari besi pun bisa menjadi mahar.

Dalam keterangan yang lain Rasulullah juga menyinggung bahwa sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya. Hal ini menunjukkan bahwa mahar bukanlah tujuan utama sebuah pernikahan, dan standarisasi nominalnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pihak.

Ketiga, Islam membolehkan berutang (istiqradh) untuk mengatasi persoalan ini. Berutang hukumnya jaiz (boleh), karena Nabi SAW juga pernah berutang (istiqradh) kepada orang lain. (An-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, h. 259).

Keempat, Islam juga membolehkan akad dhoman (jaminan), yaitu akad yang dilakukan seseorang untuk menggabungkan tanggungan pihak lain kepada tanggungan orang itu. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al-Fuqaha, h. 213). Kalau ada orang lain yang menjamin pembayaran mahar untuk isteri Anda, ini dinamakan akad dhoman, dan ini boleh menurut syara’. (An-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, h. 185).

Kelima, Islam memberikan solusi berupa puasa, sebagai upaya menjaga kesucian diri (iffah). (An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’I fi Al-Islam, h. 97). Firman Allah (artinya) : “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS An-Nuur : 33). Sabda Nabi SAW,”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu sudah sanggup menikah, menikahlah. Karena menikah itu lebih menjaga pandangan mata dan memelihara kemaluan. Kalau ia belum sanggup, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu perisai baginya.” (HR Bukhari no. 4677, Muslim no. 2485).


Baiklah apapun modusnya apapun alasannya, saya sendiri berharap agar para bujang di Indonesia ini tidak menjadikan Yudi sebagai patokan untuk memberi mahar sandal jepit kepada wanita yang dicintainya. Jika kita merasa mahar bentuk hadiah, maka tentu saja kita harus berikan yang terbaik pada siapa saja terlebih lagi pada orang yang kita cintai. Mosok hadiah untuk orang yang kita cintai tidak lebih berharga dari sebungkus rokok? 

 Butuh diketahui bahwa hadiah itu mengikat cinta. 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hadiah ini bisa menyebabkan persatuan dan saling cinta, bahkan terkadang memberikan hadiah lebih utama daripada sedekah pada keadaan tertentu. Beliau berkata,

ولأنها سبب للألفة والمودة. وكل ما كان سبباً للألفة والمودة بين المسلمين فإنه مطلوب؛ ولهذا يُروى عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: (تهادوا تحابوا)، وقد تكون أحياناً أفضل من الصدقة وقد تكون الصدقة أفضل منها

“Karena hadiah merupakan sebab persatuan dan rasa cinta. Apapun yang dapat menjadi sebab persatuan dan rasa cinta antar kaum muslimin, maka ini dianjurkan. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai’. Terkadang memberi hadiah itu lebih baik dan terkadang sedekah itu lebih baik (pada keadaan tertentu).”[2]


Penutup

Dalam kesempatan penutup dari tulisan ini aku ingin buat catatan seperti surat lepas untuk saudaraku Firman Wahyudi dan Helmi Susanti.

---------------------------------------------------------------

Dari Saudaramu Bara Di Medan 

Buat saudaraku Firman Wahyudi dan Helmi Susanti mohon maaf jika tulisan ini menyakitkan hati kalian. Tidak bermaksud untuk merendahkan dan menyalahkan kalian, namun tulisan ini sebenarnya ku buat untuk memahamkan kepada publik bahwa mahar murah secara materi itu sah. Dan bahkan mahar hutang juga Sah. Namun sebagai orang yang bersosial, tentu saja kita harus memperhatikan situasi apa yang akan terjadi jika kita melakukan sesuatu hal. 

Dan bisa jadi apa yang kalian lakukan adalah benar, namun tak selamanya publik meresponnya dengan bijak. Bisa jadi mereka melakukan sumpah serapah atau apalah. 

Apapun kata orang, apapun kataku dalam tulisan ini mohon jangan di bawa ke hati. Ini hanya bagian dari bagaimana kita mencoba untuk saling berbagi pengetahuan. Aku juga orang yang sempurna dalam berislam, tapi aku coba mengungkapkan betapa Indahnya memberikan hadiah yang terbaik buat orang yang kita cintai. Jikapun sandal jepit adalah benda terbaik menurut kamu Yudi, ya Sudahlah... 

Terimakasih pengertiannya.. Semoga keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah warhamah dan mawaddah.. Aamiinn... 

Saudaramu Bara di Medan 


 

Baca Juga