Rindu sebelum (Pernah) Bertemu

Rindu sebelum (Pernah) Bertemu

Rindu sebelum (Pernah) Bertemu

Nonmuslim pun Merindukan Umar


Adalah hak setiap orang untuk menyimpan benci maupun rindu kepada apa pun yang ia mau. Selama diekspresikan dengan sewajarnya, pasti tak ada yang mempermasalahkannya.

Namun, belakangan ini kita melihat ada pihak-pihak yang sangat lebay dalam mengekspresikan kebenciannya. Terlebih lagi kebencian itu ditujukan kepada ulama, bahkan terhadap ajaran agama. Mereka membuat acara bakar-bakar spanduk bergambarkan ulama serta menuliskan “saatnya rakyat melawan khilafah” di spanduk lainnya. Kok sampai segitunya?

Padahal ulama yang mereka benci itu bukan pelaku korupsi, bukan penjual aset negeri, bukan begal, pemabok, atau penjudi. Malah beliau berjuang mengusir perjudian dan segala macam keburukan dari negeri ini. Pantaskah beliau dibenci?

Lalu, kenapa pula membenci khilafah? Apa khilafah  sedang menjajah dan menyengsarakan negeri ini? Kan tidak sama sekali. Khilafah bahkan sudah tak ada lagi, sejak Khilafah Utsmaniyyah runtuh tahun 1924, lalu berdirilah Republik Turki. Jadi, kenapa mereka-mereka itu membenci sesuatu yang tak pernah ditemui? Ah, kebencian yang sulit dimengerti.

Oh, atau mereka membenci khilafah karena takut negeri ini menjadi seperti Suriah sebab di sana berdiri khilafah ISIS yang sangat sadis itu? Perlu diketahui, ISIS itu layaknya tabung gas gadungan yang sengaja dibuat untuk diledakkan. Tujuannya agar orang-orang ketakutan dan membenci tabung gas (khilafah), padahal ia sangat berguna bagi kehidupan. Makanya, AS seolah-olah begitu sulit menghancurkan ISIS yang cuma secuil itu, padahal Irak dan Afganistan yang berbentuk negara saja bisa dihancurkannya. Itulah bagian stigmatisasi khilafah.

Hanya saja, bertolak belakang dengan itu semua, tampak pula belakangan ini ada pihak-pihak yang justru sangat merindukan khilafah. Meskipun harus menerima risiko yang tak menyenangan, kerinduan pada khilafah tetap mereka ekspresikan. Berbagai hambatan tak dapat membendung derasnya arus kerinduan.

Bahkan dahulu, kerinduan pada khilafah tak hanya dimiliki oleh umat muslim saja, tetapi umat nonmulim juga. Kala itu, rakyat Romawi justru menanti-nanti kedatangan khilafah ke negara mereka.

Fakta kerinduan tesebut diungkap oleh sejarawan Kristen bernama Profesor Thomas W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam.

Saat itu, wilayah Syam (Syria, Jordan, Palestina) berada di bawah Pemerintahan Romawi Timur (Byzantium), sementara negara Islam (khilafah) dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa pemerintahan beliau, umat Islam cukup banyak melakukan futuhat (penaklukan) terhadap negara-negara yang bergelimang kezaliman. Salah satu futuhat tersebut dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Aljarrah.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Prof. Arnold menuliskan,
“When the Muslim army reached the valley of the Jordan and Abū 'Ubaydah pitched his camp at Fiḥ l, the Christian inhabitants of the country wrote to the Arabs, saying: "O Muslims, we prefer you to the Byzantines, though they are of our own faith, because you keep better faith with us and are more merciful to us and refrain from doing us injustice and your rule over us is better than theirs, for they have robbed us of our goods and our homes."2 The people of Emessa closed the gates of their city against the army of Heraclius and told the Muslims that they preferred their government and justice to the injustice and oppression of the Greeks.” (Arnold, 1913: 55)

“Saat pasukan Islam di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Yordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya yang berbunyi: “Saudara-saudara kami kaum muslimin, kami lebih bersimpati kepada Saudara daripada orang-orang Byzantium, meskipun mereka seagama dengan kami, karena Saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih bersikap belas kasih kepada kami dengan menjauhkan tindakan-tindakan tidak adil, serta pemerintah Islam lebih baik daripada pemerintah Byzantium, karena mereka telah merampok harta dan rumah-rumah kami.” Penduduk Emessa menutup gerbang kota terhadap tentara Heraclius (Kaisar Romawi) serta memberitahukan kepada pasukan Muslim bahwa mereka lebih suka kepada pemerintahan dan sikap adil kaum muslimin daripada tekanan dan sikap tidak adil penguasa Yunani (Kekaisaran Romawi)”

Dari apa yang dituliskan oleh ahli Inggris tersebut, tampak bahwa keadilan khilafah membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan khilafah daripada dipimpin oleh Kaisar Romawi yang sama-sama Kristen. Mereka benci hidup dalam kezaliman dan tentu merindukan keadilan. Namun, penerimaan mereka pada kehilafah yang dipimpin khalifah Umar bukanlah semacam sebuah pelarian tanpa alasan.

Walau Umar sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya, ia sendiri sangat takut terhadap ketidak-ridhaan dari rakyatnya atas kualitas kepemimpiannya. Ia sangat khawatir menzalimi rakyatnya. Kerap kali Umar meminta kritik dari rakyatnya dengan berkata, “Sesungguhnya orang yang saya cintai adalah orang yang menunjukkan kepada saya aib-aib saya.” (As-Suyuthi, 2000: 150)

Oleh karena itu, rakyat pun tak takut menyampaikan pendapatnya kepada Umar secara terbuka, termasuk tentang apakah Umar pantas disebut sebagai khalifah atau tidak. Imam Syuyuthi menuliskan bahwa Umar pernah bertanya padanya rakyatnya yang bernama Salman, “Apakah saya ini seorang raja atau khalifah?” Salman menjawab, “Jika engkau mengambil dari bumi kaum muslimin satu dirham atau lebih, lelu engkau pergunakan uang itu bukan pada tempatnya, maka engkau adalah seorang raja dan bukan khalifah.” Mendengar itu, Umar pun terisak. (As-Suyuthi, 2000: 162-163)

Pada kesempatan lainnya, dituliskan pula bahwa Umar juga menanyakan hal serupa. Seorang yang hadir di tempat itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya antara keduanya itu terdapat perbedaan yang besar.” “Lalu apa perbedaanya?” tanya Umar. “Seorang khalifah itu tidak mengambil kecuali dengan cara yang hak dan tidak mempergunakannnya, kecuali dengan cara yang hak pula dan engkau seperti itu. Sedangkan seorang raja adalah yang melakukan kezaliman kepada manusia, dia mengambil hak orang lain dengan seenaknya dan memberikan harta yang dia miliki seenaknya pula.” Umar pun terdiam. (As-Suyuthi, 2000: 163)

Sikap Umar yang sangat terbuka terhadap kritik dari rakyatnya itu semata untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai pengurus rakyat. Ia sangat takut jika tanggung jawab tersebut tak bisa dijalankan sebaik-baiknya dan mengakibatkannya mendapat kemurkaan dari Allah subhanahu wata’ala. Alhasil, tanggung jawab kepemimpinaanya Umar itu pun tidak hanya didapatkan oleh manusia, tetapi hewan pun merasakannya. Umar pernah memasukkan tangannya ke dalam luka pada punggung unta yang bernanah, lalu berkata, “Sesungguhnya saya sangat takut ditanya Tuhanku tentang apa yang menimpa dirimu.” (As-Suyuthi, 2000: 162)

Begitulah khilafah. Sebagai ajaran Islam, khilafah mewajibkan sang khalifah menjalankan sistem pemerintahan dari Allah subhanahu wata’ala dengan sebaik-baiknya. Ketika benar-benar terwujud dan diterapkan secara sempurna, orang-orang akan merasakan segala kebaikannya. Wajarlah jika nonmuslim yang dipimpin oleh Romawi pun ingin sekali hidup dalam naungan khilafah. Mereka sudah menyimpan rindu, padahal belum pernah bertemu.

“Al-khilafah ialah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad Saw. semasa beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib). Kepala negaranya dinamakan khalifah.” (Rasjid, 2019: 495)
Allau a’lam bish-shawab

***
Penulis : Amin Syahputra
Gebang, 30 Juli 2020

Bahan Bacaan

Arnold, T.W. 1913. The Preaching of Islam, A History of the Propagation of the Muslim Faith. London: Constable & Company

As-Suyuthi, Imam. 2000. Tarikh Alkhulafa’. Pustaka Alkautsar: Jakarta Timur

Rasjid, Sulaiman. 2019. Fiqih Islam (Cetakan ke-87). Sinar Baru Algesindo: Bandung