Bung, (Jangan) Merdeka Lagi

Bung, (Jangan) Merdeka Lagi



 ‘Secara paradoksal kemerdekaan adalah takdir bagi manusia’

     Jean Paul Sartre/filsuf

Bule itu. Panggil saja namanya Mas Mike. Dia sedang riset tentang radikalisme di Indonesia. Acara tujuhbelasan itu dia diberi kesempatan memberikan kata sambutan. ’’Merdekaaaa.....’’ teriaknya di awal sambutan, mengagetkan.

Orang-orang yang hadir tersenyum dan membalasan pekikannya, Merdeka ! Seakan-akan bule asal Kanada tersebut adalah pejuang ’45. Padahal dia hanya orang yang ingin berakrab-akrab saja; dengan cara berbaur dan melakukan apa yang biasa dilakukan penduduk di mana dia berada. Dia jadi ndeso di wilayah di mana dia tak bisa tidak ndeso, dia bahkan akan jadi fundamentalis kalau itu perlu dilakukannya.

Tapi tetap saja pekikan Mas Mike terasa asing. Bukan cuma karena spelling-nya yang tidak pas, tapi ada sekat psikologis yang kuat tentang perasaan in group dan out group. Begitu juga, sambutan merdeka dari warga tidak kalah hambarnya; setengah hati dan ala kadarnya.

Baca Juga : Mengenal Radikalisme Agama                     Ribut LOGO HUT RI, Tanda Indonesia Belum Merdeka

                                          
Iluistrasi : Bung, (Jangan) Merdeka Lagi


Namun bisa jadi si bule lebih mengerti apa maksud kata merdeka itu ketimbang warga di sana. Bukan karena Kanada juga pernah dijajah Inggris dan Prancis, tetapi karena ’merdeka’ itu. Mungkin dalam hatinya dia merasa geli gak ketulungan. ’Kok ya orang Indonesia sukanya bernostalgia terus tentang merdeka. Kami aja yang dulu juga pernah dijajah gak gitu-gitu amat.’

***
75 Tahun sudah kemerdekaan kita diproklamirkan. Dengan gagah berani dan pengorbanan yang tak terkirakan. Dulu pejuang mengorbankan apa saja hinga kita kemerdekaan dari penindasan penjajahan. Tak ada yang bisa membantah, para pejuang itu telah menghadiahkan kemerdekaan kepada kita. Tapi hari ini, seperti setiap tahun, tema kita masih belum beranjak dari merdeka, huihhh.

Setiap kali pekik merdeka yang sakral itu diteriakkan, maka debat yang kemudian terjadi adalah siapa yang sudah merdeka dan siapa yang belum merdeka. Dan sekoyong-koyong banyak yang merasa belum merdeka. Jangankan orang yang memang ’tersingkir’ dari persaingan sosial, bagi mereka yang dalam level ’menengah’ pun merasa belum merdeka. Bahkan mereka yang berlimpah kemewahan pun masih ngomongi belum merdeka.

Debat seperti ini bukan saja tidak tidak produktif tapi juga buang-buang energi dan pikiran. Sudah saatnya dihentikan dan kita sudah harus beranjak. Kita ini sudah merdeka gitu-lo. Maka jangan lagi bicarakan soal sudah atau belum merdeka. Sebagai bangsa, kita percaya diri dikit kenapa sich! Isu itu sudah harus diganti, apa kek. Misalnya, ’Majuuu’ -- ’Tumbangkan Dominasi China di Asia’, ’Kalah-kan Ekonomi Jepang’ atau ’Kerdilkan Malaysia Dengan Jadi Besar’, ’Gantikan Posisi Amerika’, etc, etc. Karena isu merdeka itu sudah harus tuntas, tas, tas, taaaaaaaaas...................
Dalam keyakinan bahwa kita sudah benar-benar merdeka, ini lahan subur bagi tumbuhnya kepercayaan diri sebagai bangsa. Kemudian di dalam kepercayaan diri itu-lah segala potensi bisa tumbuh menjadi prestasi. Lain halnya jika kita masih merasa ragu kalau sudah benar-benar merdeka. Sifat ragu-ragu ini bukan saja bisa mematikan rasa percaya diri tetapi juga bisa membunuh semua potensi yang ada. Gak beda seperti orang yang ‘demam panggung’ yang lupa untuk mau ngapai.
***
75 Tahun setelah kemerdekaan diproklamirkan, M. Natsir mengingatkan bangsa Indonesia dalam artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.” Beliau mengatakan; Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!”

M.Natsir puluhan lalu sudah memperingatkan bahwa bangsa kita telah kehilangan orientasinya di dalam kemerdekaan. Kata ’merdeka’ hanya dijadikan objek kepentingan tertentu dengan penghayatan yang berbeda.

Tentu saja begitu, Sartre juga tahu, sejatinya kemerdekaan itu melekat dalam dimensi kemanusiaan sejak lahir. Kemerdekaan tidak bersifat eksternal dalam arti merupakan pemberian orang lain, melainkan bersifat internal bahkan eksistensial karena ada dalam diri manusia dan menjadi perwujudan martabat manusia.

Jadi kalau jiwa kita merdeka, penjajahan itu tidak bisa merenggutnya walaupun mereka menduduki negeri kita. Jiwa kita adalah merdeka, secara resmi itu sudah diproklamirkan dengan tegas 75 tahun lalu. Apalagi sekarang Belanda sudah jauh. Jadi bung, masih soal merdeka lagi?

Dedi S