Erupsi Sinabung


Ketika bahaya mendekat, dan orang-orang lari menjauh, selalu saja ada orang yang justru mendekatinya. Orang seperti ini merasakan ada sensasi di sana. Tapi bukan sekedar itu, karena ada misteri yang seolah menarik-narik mereka melakukannya.

Tulisan ini untuk sekedar mencoba memetik hikmah tentang Thomas Meliala dan Rizal Syahputra. Mereka adalah dua mahasiswa saya yang membujur tewas di antara para korban awan panas erupsi Sinabung kemarin.

Mereka sama-sama berambut panjang. Thomas bahkan rambutnya berbentuk gimbal. Penampilan mereka sudah cukup bagi saya untuk memahami kekerasan wataknya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya. Ini jenis pertanyaan aneh, yang terkadang tak dapat diterjemahkan kata-kata.

Karena sifatnya yang aneh, maka jawabannya pun sering dianggap tak lazim. Sejak erupsi Sinabung sekitar enam bulan lalu, mereka sudah bolak-balik ke sana. Setahu saya Thomas sering bergabung dengan tim SAR. Dia sering ikut menyelamatkan korban di daerah bencana. Sedangkan Rizal adalah jurnalis yang hobi motret. Erupsi Sinabung adalah momen yang sangat menarik baginya.

Mendekati Sinabung yang sedang erupsi, mendaki gunung atau mendekati daerah bencana adalah di antara cara mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Cenderung keras memang, tapi saya tahu itu karena keduanya berhati lembut. Mereka pada dasarnya pemalu, tapi semangatnya seolah telah mengatasi perasaan itu. Saya bisa memahami ini karena di usia mereka, saya dulu melakukan hal yang sama—dengan cara berbeda.

***
Ketika bertemu kemarin, Thomas dan kawan-kawannya menyampaikan maksud menggalang dana untuk para pengungsi erupsi Sinabung. Mereka akan menggelar foto-foto seputar Sinabung yang akan dipamerkan. “Kami mau mendokumentasikan Sinabung pak untuk menggalang dana,” katanya waktu itu.

Untuk itu mereka meminta saya membantu. Saya sanggupi permintaan itu. Tapi.., membantu mereka? Saya merasa ada yang salah. Begini urut-urutannya; Para mahasiswa itu membentuk semacam kepanitiaan, sebagian bertugas mengambil gambar erupsi Sinabung, sebagian lagi mempersiapkan acara pameran termasuk mengundang orang yang bisa jadi donatur.

Foto yang dipamerkan akan dilelang bagi siapa saja yang berminat membelinya. Uang hasil pelelangan foto itu nantinya akan disalurkan kepada para pengungsi erupsi Sinabung. Dan untuk itulah saya diminta membantu mereka; mengundang orang yang dianggap layak diundang.
Maka jelaslah, bukan saya yang membantu, tapi merekalah yang mencoba membantu saya terlibat menebarkan kebaikan.

***
Sebenarnya apa sih daya tarik gunung, hingga sering orang bertaruh nyawa mendatanginya? Apa kata para pendaki itu: Tempat di antara kaki dan puncak gunung adalah jawaban dari misteri, kata Greg Child. Atau Hermann Buhl, ketika dia mengatakan: Gunung adalah cara untuk menjadi percaya diri. Atau pernyataan Jonathan Waterman: Banyak pendaki gunung menjadi penulis karena kesalahan konsepsi tentang mendaki.

Anda bisa tanyakan kepada para pendaki lainnya. Jawabannya akan lebih  kurang persis sama mengaburnya. Anda tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan karena ia memang bukan domainnya kata-kata. Kalau bumi ini rakitan bangunan, maka gunung ada pasak-pasaknya. Kalau bumi ini akan aman-aman saja sepanjang gunung setia di tempatnya, maka saat gunung berhamburan, di saat itulah kiamat menjelang.

Ya, gunung itu selalu mengingatkan tentang kiamat yang dekat dan pasti itu. Dia dekat karena itu kita tak perlu tahu kapan terjadi. Dan ia juga pasti karena Tuhan sendiri yang menjaminnya bakal terjadi. Bacalah kitab suci, gunung itu dikaitkan dengan kiamat: kiamat itu  ketika gunung-gunung serupa bulu-bulu yang berterbangan.

Inilah hari ketika orang-orang yang mengingkarinya terperangah sejadi-jadinya. Inilah hari yang ketika ketakutan tak terkirakan datang kepada siapa saja. Begitu takutnya sampai seorang ayah tak lagi ingat anak-anaknya, seorang ibu akan melempar bayinya sendiri, dan siapapun akan lupa kepada apapun kecuali keselamatannya dirinya sendiri. Huru-hara itu sungguh tak terbayangkan.
Begitulah gunung mengingatkan akan kiamat yang pasti itu. Tapi sungguh, perjalanan menuju ke sana akan selalu menemukan kebaikan-kebaikan yang ditawarkan. Mereka yang beruntung adalah yang dengan cara benar sempat melakukannya, atau mati saat melakukannya. (Dedy Syahputra)

Baca Juga