Inilah Bahaya Nonton Drama Korea

Inilah Bahaya Nonton Drama Korea

Bahaya Drakor
Bahaya Drakor

Hari ini otakku 'blank' mau nulis apa di blog. Biasanya kalau aku 'blank' buntu pikiran, aku cari ide dan riset keywoard di google Trend, twitter atau di ubersuggest. Ga pake lama 5 menit langsung dapat ide.

Eh ini hampir 2 jam ga dapat ide mau nulis apa. Pasalnya semua trend itu mengarah pada satu tema, yakni Drama Korea.  Busyed.. dah ! Dalam hati males banget aku mau riview atau menulis soal drama korea. Rasanya gimana gitu, kesannya sia sia banget waktuku kalau dipake nulis membanggakan Drama Korea gitu.
.
Biar kalian tau di awal ya, aku termasuk yang anti Drama Korea . Bahkan kalau ada sebuah organisasi radikal anti Drama Korea aku mau masuk daftar jadi anggotanya. Biarlah, kalau kalian bilang aku ga fair, ga ngerti seni, ga ngerti hiburan, atau ga menghargai kesukaan orang lain, kuper, kudet dll. Tapi tetap aku ingin katakan kalau aku orang yang paling tidak suka dengan Drama Korea. Kalian pasti akan tanya alasannya kenapa? Ya Alasannya sederhana sih. Aku ga mau masuk sesuatu kondisi yang akan membuat otak ku terganggu dan waktuku habis sia sia.
.
Sampai  sekarang ini aku ga pernah dapat artikel manfaat nonton Drama Korena, selain hanya dapat bermanfaat untuk belajar bahasa Korea, mengetahui gaya hidup orang orang korea, dan budaya mereka. Kalau hanya itu manfaatnya, tanpa menonton Drama Koreapun aku bisa.
.
Kalian harus tau ya. Bahwa menonton drama korea itu relatif mudah candu ya. Karena Drama Korea itu, berseri dan aspek perasaan yang dirangsang secara terus menerus.

Secara psikologis, kecanduan itu biasanya di sebabkan oleh hormon dopamine, salah satu zat kimia di otak (neurotransmiter) yang berperan mempengaruhi emosi, gerakan, sensasi kesenangan dan rasa sakit. Jika emosi dalam batasan tertentu cukup menyehatkan, tapi kemudian jika tidak terkontrol justru membentuk perilaku kecanduan.

Dalam Unsur Drama Korea ini kondisi tersebut terjadi karena ada daya tarik dan unsur kedekatan. Biasanya yang paling mudah, apa yang disaksikan orang dari drama Korea karena pemainnya cakap, suasananya dibangun menyenangkan, dan itu mengaktifkan stimulasi ke hormonnya. Afeksi emosionalnya meningkat, karena dilibatkan secara emosi.

Ketika emosi ditampilkan dalam drama, penonton merasa itu menjadi representasi dari dirinya. Permasalahan di drama seolah jadi perpanjangan dirinya. Yang parahanya ekspektasi dan konflik dalam Drama itu tidak di temukan jalan akhirnya.

Kondisi inilah yang membuat kesehatan tubuh hancur. Karena Drama Korea itu cerinya panjang hingga berjam jam, dan banyak evisode, dan tak jarang membuat pemirsa ingin mengikuti kisahnya sampai akhir secara maraton (binge-watching) maka setiap yang menontong Drama Korea akan meluangkan waktunya cukup lama di depan Layar, Tablet atau PC. Dan kesehatan tubuh akan hancur.

Faktanya, Seorang perempuan asal Nanjing, China yang hampir buta karena menonton drama Korea, 2016 lalu. Dia harus memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit setelah kedua matanya memerah dan perih.

Kondisi itu ia rasakan usai menyaksikan drama Korea selama 18 jam tanpa henti di akhir pekan. China Daily melaporkan bahwa selama kurun waktu tersebut, perempuan itu tak melakukan apapun selain makan dan tidur sejenak dan terpaku ke layar tablet miliknya untuk menyaksikan 16 episode seri Cheese In The Trap dan dua episode Descendants of The Sun.

Sebelumnya, pada 2014, QQ.com memberitakan bahwa seorang perempuan di Wuhan, China menderita serangan jantung setelah menonton drama Korea My Love From Another Star hingga larut malam.

Baca Juga : Ketika Ananda Terinfeksi Virus Merah Jambu

Sementara itu, mengutip dari artikel Dosen Psikologi, bahwa ada 10 Bahaya menonton Drama Korea secara psiklogis.

1. Bisa Membuat mood-mu Berantakan.
2. Lupa Waktu
3. Jadi Lupa Dunia Nyata
4. Berekspektasi Tinggi
5. Ikut Sedih Mendengar Soundtracknya
6. Menjadikan Sebagai Role Model dan menghilankan jati diri
7. Suka berkisah Nggak Masuk Akal
8. Nggak Suka Produk Dalam Negeri
9. Menutup Diri dari Dunia Luar
10. Ngomongin Drama Korea


Menonton Film Dalam Pandangan Islam



Sebenarnya menonton film apapun dalam pandangan Islam hukum asalnya Mubah. Termasuk dalam menonton Drama Korea. Namun, jika tontonan itu mengandung Unsur unsur yang menjauhkan kita dari ketaatan, maka hukumnya menjadi Haram.

Sebagai mana dengan kaidah, perkara yang mubah jika dapat mengantarkan pada perkara yang dilarang atau menyia-nyiakan, maka lebih pantas untuk ditinggalkan dan dijauhi. Sebagaimana para ulama seringkali membawakan kaedah fiqhiyah: Maa yatawaqqoful haromu ‘alaihi fa huwa haromun (Suatu yang bisa menyebabkan terjerumus pada yang haram, maka sarana menuju yang haram tersebut menjadi haram).

Begitu pula kaedah lainnya: Wasail makruh makruhatun (Perantara kepada perkara yang makruh juga dinilah makruh). Sehingga yang dibolehkan adalah jika televisi digunakan untuk hal yang bermanfaat (untuk agama dan dunia) saja seperti untuk mendengar kajian ilmu agama yang bermanfaat, mendengar tanya jawab ulama, dan hal yang bermanfaat lainnya.

Dalam kaedah fiqhiyah disebutkan: Mencegah kejelekan lebih didahulukan daripada mendapatkan manfaat (dar-ul mafaasid muqoddam ‘ala jalbil masholih). Kejelekan dan kerusakan yang ditimbulkan tontonan untuk saat ini lebih banyak, daripada manfaatnya yang sedikit.

Tidak hanya soal itu, dalam pandangan Islam waktu sangatlah berharga. Begitu berharganya waktu, menyia-nyiakannya adalah bentuk puncak kerugian, bahkan lebih berbahaya dari kematian.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]

Apabila waktu di sia-siakan terus-menerus maka untuk apa ia hidup? Waktunya tidak bermanfaat baik untuk dirinya dan orang lain. Waktu hanya digunakan untuk bermain-main dan bersenda gurau saja?


WallalhuAlam

Berbagai Sumber