Kategorisasi Islam


Selalu saja. Dalam mengenal dan memahami sesuatu, orang terbiasa membuat pengkatagorian antara yang satu dengan lainnya. Dengan kategorisasi ini maka otak akan langsung ‘disergap’ oleh stereotipe yang sebelumnya sudah melekat ataupun dilekatkan ke dalam pikiran publik.

Stereotipe maksudnya, seperti ketika kita mendengar nama Amerika Serikat, orang langsung akan membayangkan tentang kekerasan seperti yang terjadi di film-film atau teknologi tinggi dan peralatan militer yang canggih dan sebagainya. Atau ketika mendengar nama Arab, maka orang akan biasa membayangkan tentang gurun pasir, orang berjubah, berjanggut dan lainnya.
Akan halnya partai politik juga akan selalu diidentifikasi dengan partai agamais, partai, nasionalis atau partai yang ‘kekiri-kirian’. Kemudian ciri ini sering kali menjadi referensi utama bagi pemilih. Dalam proses terbentuknya stereotipe—yang menjadi acuan bagi kategorisasi ini—dilalui  melalui suatu proses yang bisa direkayasa sedemikian rupa.

Dengan demikian orang akan dipermudah atau mudah diarahkan melakukan identifikasi terhadap sesuatu dan tidak harus susah mencari tahu tentang suatu hal. Ini selanjutnya menjadi referensi sebagai dasar membuat suatu keputusan dalam dirinya. Maka kita harus sadar betapa pentingnya politik kategorisasi ini.


Baca Juga : Mau Jadi Sultan, Tontonlah Film Jejak Khilafah di Nusantara!


Dalam dunia Islam kini kita mendengar beberapa kategorisasi yang pada umumnya merupakan stigma yang ditempelkan seperti Islam garis keras, Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam sejuk, Islam liberal, Islam moderat dan lain istilah lainnya. Tetapi setidaknya ada tiga kategorisasi yang dibentuk yaitu Islam garis keras pada satu kelompok, Islam sejuk pada kelompok pertengahan dan Islam liberal pada bagian lain.
Begitulah…

Islam hari ini telah difahami atau dikategorikan ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Kerangka berpikir dalam memahami hal ini adalah tentang suatu hal yang tidak berdiri sendiri, namun ada kepentingan yang berada di belakangnya.

***
 Ada beberapa wajah Islam yang dikedepankan belakangan ini. Ketika melihat terdakwa Bom Bali I yang telah dieksekusi atau para pelaku bom bunuh diri di Irak, orang langsung mengkategorikannya dalam kelompok Islam radikal, garis keras atau fundamentalis. Di sisi lain ketika ada orang Islam yang anteng-anteng saja walau apapun yang terjadi di dunia Islam maka ini adalah Islam sejuk. Sedangkan para ’ulama’ yang punya profesi baru dengan membuka pintu surga bagi semua penganut agama mengkategorikan diri ke dalam kelompok liberal. Tetapi...

Benarkah Islam adalah kelompok-kelompok yang terpisah dan terbagi-bagi. Perihal kategorisasi ini Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Hamid Fahmi Zarkasy memberikan defenisi yang sangat baik. Dia menyatakan, liberal mendahulukan konteks ajaran Islam (Alquran, Alhadis) sedangkan non-liberal bervariasi ada yang mendahulukan teks, ada yang mendahulukan teks tapi menggunakan akal, ada yang seimbang antara teks dan konteks.

Namun dari kelompok non-liberal terdapat kelompok yang tekstual yang di antaranya  cenderung bersikap ekstrim dan radikal. Maka dari itu terdapat dua kutub ekstrim di sini, pertama kelompok yang terlampau tekstual dan kelompok yang terlalu kontekstual yaitu liberal. Namun non-liberal masih dalam domain worldview Islam, sedangkan liberal telah dihegemoni oleh worldview Barat postmodern. Kondisinya kini kelompok liberal berhadapan dengan kelompok non-liberal yang tekstual maupun yang tekstual-rasional-kontekstual. Konflik menjadi memanas ketika diketahui bahwa kelompok liberal mendapat dukungan dana besar dari Negara-negara Barat.

***
Dalam diri manusia sendiri pun sejatinya memiliki wajah yang berbeda-beda. Terkadang orang tersenyum dengan bibir dimekarkan, tertawa terbahak atau menangis sedih, marah hingga wajah memerah saga dan berbagai ekspresi lainnya. Tidak ada orang yang sepanjang hidupnya hanya punya satu ekspresi wajah. Tidak ada.

Baca Juga : Download Kitab Al Islam Bainal Ulama Wal Hukkam (Sheikh Abdul Aziz Al badri) [Pdf]

Semua tergantung perasaan hati dari kondisi yang dihadapi. Begitu juga dalam persaudaraan umat Islam. Rasulullah SAW mengajarkan ’amar ma’ruf nahi munkar. Kalau Anda berdakwah mengajak orang berbuat baik dan mengerjakan amal sholeh, itu adalah ’amar ma’ruf. Sedangkan kalau Anda harus berperang ketika negeri kita diserang atau dijajah orang kafir seperti pada masa kolonial dulu atau ketika kebebasan dalam menjalankan ibadah dikekang, maka Anda perlu melakukan nahi munkar.

Maka saya lebih setuju kalau kategorisasi hanyalah ke dalam dua kelompok besar yakni Islam dan non-Islam. Karena Islam itu hanyalah satu. (Dedi Syahputra)

Baca Juga