Kebodohan-Ilmu

Kebodohan-Ilmu

Dari jaman jahiliyah sampai sekarang, yang menjadi musuh utama manusia adalah kebodohan. Karena sifat yang satu ini orang sering berlama-lama dalam sesuatu yang tidak nyaman untuk dirinya dan orang lain—meski dia sendiri sebetulnya bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya, atau paling tidak bisa berupaya.
            Ini mungkin yang menyebabkan Tuhan menempatkan orang-orang yang cerdas, memiliki ilmu pada kedudukan yang lebih tinggi. Tidak lain agar orang yang memiliki ilmu tersebut bisa cerdas menyikapi realitas hidup dan bisa dengan jelas membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang asli mana yang imitasi, mana yang prioritas dan mana kacangan.
            Sejatinya orang yang bodoh adalah orang yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Orang terkadang sudah merasa sangat nyaman untuk melakukan kesalahan—tanpa menggunakan akal pikirannya untuk mempertanyakan ulang setiap saat apakah yang dilakukan tersebut sudah benar atau salah.
            Seorang pedagang di pusat pasar misalnya, kerap menyanjung barang dagangannya meski dia sendiri sebetulnya tahu kalau barang dagangannya itu kurang bagus atau malah dia tidak tahu sesuatu tentang barangnya tersebut. Tidak jarang bahkan mereka selalu mengatakan ‘baru buka dasar’ setiap kali ada transaksi dengan pembeli. Mereka tahu kalau sesuatu yang diucapkan secara tidak benar itu adalah bohong, namun hal seperti itu tetap dilakukan karena sudah merasa nyaman dengan kondisi seperti itu.
            Ketika seorang pejabat sedang berbicara—dalam kompleksitas masalah yang dihadapinya—dia juga tidak jarang harus berbicara yang sebetulnya tidak sesuai dengan kenyataan. Karena seringnya dia berada pada kondisi yang mengharuskannya untuk berkolusi dengan konco-konconya, mendahulukan hak personal daripada hak jamaah/hak sosial.
            Tapi terkadang orang-orang seperti ini kadang juga merupakan orang yang disiplin ketika mendengar suara azan. Tidak sedikit juga yang suka berlama-lama di dalam masjid, meski sebagian hanya sekedar duduk-duduk ngobrol atau tidur.
***
            Anda mungkin sedang memprotesi rangkaian tulisan saya di atas. Karena banyak contoh yang menunjukan bahwa orang yang bertitel profesor doktor sekolah sampai ke manca negara juga tidak menjamin memiliki moral yang lebih baik dari seorang yang hanya lulusan SD.
            Anda mungkin berkata, kok beran-beraninya saya mengatakan kalau orang yang berilmu itu tidak akan melakukan kebodohan. Dan orang yang tidak sekolah tinggi toh belum tentu mereka bodoh.
            Memang begitulah keadaannya. Tapi saya hanya teringat tafsir kata-kata maghdlub dan dhollin yang terdalam di ujung surat al-fatihah. Kedua kelompok orang yang disebut dalam ayat ini adalah kelompok orang-orang yang melakukan kebodohan.
Kelompok orang maghdlub adalah orang yang sedang diomeli oleh Tuhan. Surat ini adalah SK peringatan kepada orang-orang memiliki keinginan/kemauan tapi tidak memiliki pengetahuan atau tidak tahu. Contohnya cukup banyak; sering kita jumpai orang yang memiliki semangat tinggi untuk memperjuangkan kebenaran tapi dia malas untuk belajar tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan perjuangannya tersebut.
Seperti misalnya seorang ulama yang belajar mendalam spiritualitasnya namun rendah kualitas intelektualitasnya. Banyak orang yang punya keberanian memperjuangkan kebenaran, bahkan dia rela mati untuk itu, tapi tidak jarang mereka memiliki ketertinggalan dalam pengetahuan untuk mengidentifikasi kebenaran itu.
            Sementara kelompok dhollin adalah kelompok orang yang nyata-nyata menentang Allah SWT. Mereka mengetahui sesuatu hal tetapi mereka tidak mau melakukan sesuai dengan pengetahuan akan kebenaran yang dimilikinya itu.
            Anda jangan dulu membayangkan kelompok ini adalah para ahli kitab yang mengetahui tentang kebenaran Alquran namun tidak mau mengakuinya. Atau seorang cendikiawan yang cangih ilmu pengetahuannya tetapi tidak memiliki dasar pengetahuan agama sebagai dasar pijakannya.
Tetapi juga termasuk ke dalamnya setiap orang yang punya akses informasi yang canggih, wawasan yang luas serta memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi kebenaran dalam segala bentuk aplikatifnya seperti kebenaran sosial, ekonomi, budaya, politik dan sebagainya namun tidak cukup berbuat sepadan dengan kedalaman pengetahuannya itu.
***
Tuhan, engkau jangan tersenyum. Toh kami juga masih sujud, memujiMu dan mohon ampun kepadaMu.

           

Foliopini : Dedi Syahputra