Mau Jadi Sultan, Tontonlah Film Jejak Khilafah di Nusantara!

Mau Jadi Sultan, Tontonlah Film Jejak Khilafah di Nusantara!

Saat kemaren heboh di twitter dengan Trending #NusantarabagianKhilafah dan #jejakKhilafahdinusantara disaat yang sama saya terkesimak dengan paparan Felix Y Siauw di kanal Youtube Ahmad Dhani tentang bagaimana perjuangan umat Islam menaklukan konstantinopel. 

Felix Siauw dihadapan keluarga Ahmad Dhani cukup tegas dan berani dan menjelaskan sejarah penaklukan itu. Felix tidak canggung dan plin plan menjelaskan sejarah ke Khilafahan. Begitu juga Ahmad Dhani juga tak ragu ragu mengatakan Khilafah sebagai sebuah sejarah Umat Islam. Begitu mungkin kelas orang orang yang berkarakter dan melegenda ya? Hmmm… 

Felix dalam kesempatan itu menjelaskan secara sistemik, Timelinennya runut dan petikan pesan yang khas. Walau tak ada penjelasan Khilafah di Nusantara, setidaknya Felix Siauw menggambarkan Nyata kedigdayaan Khilafah di dunia kala itu. 

**
Balik lagi soal Trending #jejakKhilafahdinusantara ini. Trending ini sebenarnya  tidak berdiri ada benang merah bagi saya dengan sosok Felix Y Siauw . 3 hari lalu juga tepatnya minggu, 2 Agustus 2020, ada Talkshow Lounching Film Jejak Khilafah di Nusantara di Kanal Youtube di Chanel "Khilafah Chanel" acara itu di isi oleh Ismail Yusanto, Rahmad S Labib dan Nico Pandawa sebagai peneliti dengan host Felix Siauw juga. Acara yang dilaksanakan secara virtual itu mendapat respon yang banyak dari nitizen.

Acara itu bagi saya setidaknya menjadi link apa apa yang dijelaskan oleh Felix di depan Ahmad Dhani soal penaklukan Konstantinopel dan bagaimana pengaruhnya ke Khilafahan di Indonesia. 

Kekhilafahaan yang dianggab produk asing (arab) oleh orang orang liberal kekinian, ternyata punya banyak jejak di Indonesia. Dan tentu saja jejaknya di Indonesia juga bagian dari kontribusinya bagi perkembangannya muslim di Indonesia. Begitulah kira kira asumsi saya sementara. Soal film itu berdasarkan Teaser dan Talkshow Kemaren. Nanti dalam 20 Agustus 2020 atau bertepatan dengan 1 Muharram mari kita saksikan sendiri  bagaimana film Jejak Khilafah di Indonesia ini. Melalui film nya yang akan di tayangkan di Youtube “Khilafah Chanel”. Jujur sih,  Saya sendiri tidak tau utuh soal film ini, masih samar samar kaitannya antara Khilafah dan Nusantara tapi sebagai asumsi dasar pantaslah sebagai pembelajar kita bangga dan senang, saat ada yang mengungkapkan  atau membukan penjelasan pada kita bagaimana sebaranya kaitannya Khilafah dan Nusantara. 


Kontroversi Film Jejak Khilafah di Nusantara


Walau bicara tentang Islam dan perkembangannya di Indonesia, selalu saja ada pihak pihak yang mempersoalkan film ini. Apalagi ini film tentang sejarah. Tentang data dan faktual. Semua akan berhati hati dalam berucap. Saat ini film Jejak Khilafah di Nusantara masih dalam bentuk teaser dan Talkshow Lounching nya saja pada minggu lalu. Namun sudah menuai kontroversi dan perdebatan. 
 Itu hal biasa, dalam dinamikan pemikiran. Berikut akan saya sampaian beberapa kontroversi yang muncul. 

  1. 2 hari setelah Talkshow Lounching,  sejarawan sejarawan yang lebih dari 40 tahun meneliti Perang Jawa (nama lain Perang Diponegoro) sekaligus guru besar emeritus Trinity College, Oxford, Peter Carey sebagai narasumber dalam acara itu,   protes di media merasa tidak senang atas pencatutan namanya oleh media. Dalam pemberitaan Tirto Pihak panitia mengakuinya dan minta maaf. 
  2. Alwi Alatas yang juga sebagai sejarawan juga narasumber di Talkshow Lonching itu tiba tiba klarifikasi soal penampilannya di acara itu. Dia memposisikan diri takut di libatkan sebagai bagian pendukung gerakan penegakan Khilafah.“Namun sekiranya wawancara saya dan film tersebut digunakan untuk menyebarluaskan ide atau gerakan khilafah kalangan tertentu, maka itu di luar pengetahuan saya, tidak mewakili pandangan pribadi saya dan tidak pula saya restui,” kata alwi di tulis dalam hidayatullah.com
  3. Ustadz Salim Fillah yang dikenal sebagai ustadznya anak muda, yang konsen juga terhadap sejarah Islam pun ikut komentar. Walau dia bukan narsum dalam acara itu, tapi dia menyoal TalkShow itu dalam hal kenapa ada pencatutuan Narsum tanpa seizin? Dan ia mengatakan kalau dia, mendukung Peter Carey dalam menyatakan ketidaksetujuannya pada framing dan isi keseluruhan film lalu meminta agar wawancara dengan mereka dihilangkan dari film. Dan yang lucunya, ga ada angin ga ada hujan Ustadz Salim tiba tiba cepat seakan memposisikan beda barisan dengan tokoh yang meluncurkan film itu, Felix Siaw cs. Dalam klarifikasinya memposisikan diri tidak sebarisan dengan HTI (tokoh peluncuran Film) dan memposisikan pancasila bla  bla  seterusnya. (Cek disini)

    inilah yang jadi panjang ceritanya. Banyak nitizen menyoal pendapat beliau, padahal pendapat itu biasa dan lumrah saja. 

Tapi Ah Sudahlah.. terserah mereka mau membesarkan acara dengan bangun kontroversi, atau ini bukan bagian dari settingan dimana mereka mereka merasa ini menjadi penting untuk diungkap di media massa soal klarifikasinya itu. Agar semua orang tau soal posisi mereka.  Itu biasa, Tapi intinya bagiku Film ini penting untuk di tonton bagi orang orang yang haus akan ilmu sejarah keislaman.  

Teringat dengan apa yang dikatakan Felix Y Siauw saat dia bertemu dengan Ahmad Dhani dikediamannya itu. Kata Felix, Kalau Sultan Sultan dahulu pelajaran utamanya saat masih kecil itu, geografi, sejarah dan Bahasa. Karena ini semua cakupan peradaban. Jika mau faham soal peradaban yang pelajari ini. Jika mau jadi sultan ya pelajari 3 mata pelajaran ini. Tapi Sultan yang dimaksud adalah pemimpin umat Islam, bukan Sultan bintaro.. hehe.

Jadi kalau ada orang yang anti pada sejarah atau menolak sejarah sesungguhnya dia tidak layak jadi seorang Sultan (Pemimpin Umat Islam). Maka pilihannaya pada tanggal 20 Agustus nanti Jangan tonton Film Jejak Khilafah di Nusantara. Lebih baik dia duduk manis saja dirumah.. lakukan semaunya ! 

Wallahualam..