Mengenal Radikalisme Agama


Faham radikalisme keagamaan muncul atas asumsi, bahwa ada ideologi keagamaan yang radikal yang mengeksploitasi faktor kompleks yang ada (kemiskinan, keterbela-kangan, marginalisasi, pemerintahan otoriter, dominasi negara super power, globalisasi, dsb).

Ideologi ini melahirkan spirit perlawanan dan perubahan dengan tindakan-tindakan teror ketika jalan damai (kompromi) dianggap tidak memberikan efek apapun. Namun mesti diingat, Kemiskinan menjadi komponen mudahnya individu menjadi pribadi yang labil dan frustasi dalam ruang sosial. Dalam jumlah komunal akan menjadi “magma” yang kapan saja bisa meletup seperti halnya bara dalam sekam tinggal menunggu momentum dan pemicunya. Begitu juga keterbelakangan, ketidak adilan dan abainya peran pemerintah dalam urusan hajat asasi rakyat.

Sangat mungkin mengakumulasi menjadi rasa frustasi dan dimanefestasikan dalam bentuk “pemberontakan” dalam berbagai ragam wajahnya. Dan yang perlu di catat dan tidak boleh dilupakan, bahwa imperialisme dan dominasi negara Amerika Serikat dan sekutunya di dunia Islam (termasuk Indonesia) terlihat korelatif menjadi sebab dominan lahirnya faktor-faktor aktual diatas.
Dengan penjajahan dibidang politik, ekonomi dan hukum melahirkan dunia Islam menjadi “kubangan neraka” bagi rakyatnya. Apalagi jika penjajahan fisik dilakukan oleh Amerika Serikat secara langsung seperti tragedi Afghanistan dan Iraq.

Ada banyak riset yang cukup menjadi indikator bahwa imperialisme global yang dikomandani oleh Amerika Serikat adalah pemicu munculnya perlawanan-perlawanan yang kemudian oleh AS di labeli sebagai “teroris” dan “radikalis” dengan label itu pula AS secara culas memaksa dunia Islam melalui penguasanya harus memilih apakah di belakang barisan AS atau bersama teroris dan kelompok radikal dengan mengumandangkan Global War On Terrorism (GWOT).

Hasil riset PEW Research Centre, Riset Universitas Maryland, Riset Robert Pape (Univ Chicago) dan lain sebagainya cukup akurat dan relevan dengan fakta dilapangan. Barat (AS) telah menjadi trouble maker dan episentrum distabilitas kehidupan ekonomi, politik dan keamanan di kawasan dunia Islam. Yang ini menjadi basis alasan kuat dan logis umat Islam “wajib” melakukan respon dengan cara yang mereka mampu.

Cuma sekali lagi justru fakta-fakta ini hendak ditutupi dan justru kelompok Islamis (dengan cap kelompok Islam radikal-fundamentalis) menjadi kambing hitam. Adakah dalam catatan sejarah; umat Islam melakukan perlawanan tanpa ada sebab apapun?? Amerika Serikat dan negara-negara satelitnya dengan manipulatif dan culas melakukan propaganda dan perang opini menutupi fakta sebenarnya dengan tuduhan-tuduhan dusta terhadap Islam dan umatnya.

Jadi keliru jika ada kalangan yang memandang radikalisme dengan kacamata kuda  (subyektif), artinya memandang dominan sebagai gejala yang lahir dari tafsiran keagamaan yang menyimpang. Padahal, sikap radikal ini muncul karena pemerintah abai terhadap realitas berupa meluasnya sikap apatisme dan frustasi sosial akibat kemiskinan, ketidakadilan, ketidakpastian masa depan, dan tekanan hidup yang berat.

Semua itu korelatif dengan peran imperialisme global yang dikomandani Amerika Serikat terhadap Indonesia. Karena itu, berapapun anak-anak negeri ini ditembak mati karena alasan terorisme dan radikalisme, sesungguhnya tidak akan bisa memadamkan potensi lahirnya “teroris-radikalis” baru jika faktor kompleks — termasuk di dalamnya kezaliman global oleh dunia Barat terhadap Dunia Islam —yang menjadi akar masalahnya diabaikan. Disamping itu juga ada faktor yang tidak boleh diabaikan begitu saja yakni adanya kemungkinan peran dan operasi intelijan lokal maupun asing sebagai “produsen” dari fenomena “radikalisme keagamaan”.

Baca Juga