Peringatan 17 Agustus : Pahlawan dan Kekalahan Barca

Peringatan 17 Agustus : Pahlawan dan Kekalahan Barca



Dunia heboh, Barcelona dipermalukan Bayern Muenchen dengan skor 2-8 di Estadio da Luz, Lisbon. Kekalahan telak itu mengantarkan Blaugrana mengukir sejarah kelam. Barca kebobolan delapan gol untuk pertama kalinya dalam sebuah pertandingan sejak kekalahan 0-8 melawan Sevilla pada Copa del Rey 1946. 

Raksasa Catalonia itu benar-benar dibuat tak berdaya melawan pasukan Bavaria, kalah di semua lini, pertahanan terbongkar habis-habisan, barisan lini kedua tertekan sepanjang laga, dan lebih menyakitkannya, pemain buangan mereka Philippe Coutinho terlibat dalam tiga gol terakhir Bayern Munchen

Kejadian ini membuat Media spanyol beraksi keras. Tuding saling tuding sebab kekalahan yang dianggab banyak kalangan tidak masuk akal ini, menjadikan media kini berspekulasi siapa siapa saja yang harus di pecat dari Barca. Apakah ini sesuatu yang bijak?

Baca Juga : Ribut LOGO HUT RI, Tanda Indonesia Belum Merdeka



Ya,memang Betapa kebajikan itu kerap ditemukan setelah kerumitan, huru hara, bahkan penderitaan. Ini seperti seperti para filosof yang mengerutkan keningnya berlipat-lipat sebelum menemukan filsafat yang mengguncang dunia. Atau seperti Sang Rasul yang bergetar, berpeluh—keringat dingin sebelum firman-Nya turun—juga seperti perang yang melahirkan pahlawan. Namun pertandingan telah Usai. Dalam konteks pertandingan dengan kekalahan ini, maka tak pantas kita mencari pahlawan dari mereka yang kalah. Dimana mana kepahlawanan itu lahir dari pemenang.

***
Menjelang 17 Agustus, ditengah momentum peringatan hari kemerdekaan atau kemenangan ini, kata pahlawan selalu teringat dikepala kita. Belanda pergi, Jepang Kocar kacir, Indonesia pemenang – Merdeka. Maka para pahlawanlah yang dicatat dalam sejarah.

Kepada para pahlawan besar kita tak lepas melabuhkan kagum. Pada keteguhan hati Jenderal Besar Sudirman, pada semangat intelektualitas yang diwariskan KH.Agus Salim, pada perjuangan Moh.Hatta. Takzim pada segala penderitaan yang mereka tanggung, yang diwakafkan untuk kemaslahatan banyak orang. Pada infak total keseluruhan dirinya, bukan pada margin-nya. Pada hati yang tak pernah berdetak bahwa merekalah pahlawan itu. Seperti lirik lagu One Direction yang lagi ngetrend itu: You don’t know you’re beautiful/That’s what makes you beautiful. 

Tapi kagum itu bercampur iri hati. Tak semua teladan kepahlawanan itu bisa kita ikuti. Coba simak. Pahlawan adalah produk segala keruwetan di zamannya. Keruwetan itu bertemu dengan sinyal di dalam diri sang pahlawan—fitrah setiap orang yang terus dilatih. Maka berpijarlah laku kepahlawanan mereka—iapun abadi, terbawa landai arus zaman. Walau ada yang diantara mereka tercatat ataupun tidak. Ini soal politik, ini soal kepentingan ini soal dimana siapa yang berkuasa atau tidak. 

***
Namun dari itu, sepantasnyalah kita Iri itu bersumber dari ketaksabaran di tengah hingar-bingar kesulitan negeri ini. Di tengah korupsi yang merajalela, jalanan yang dipenuhi pelanggaran, hukum yang diperkosa, Narkoba yang disayang-sayang, kesemena-menaan yang dipertontonkan, dan di tengah syahwat yang dipuja-puja. Tapi nafsu pahlawan kita itu tak kunjung datang. Bukankan kita sedang hidup dalam sejarah yang menjadi industri memroduksi pahlawan?

Maka ketika kepada pahlawan besar itu menjadi terlalu jauh. Jangan menutup mata menjadi pahlawan kecil di rumah kita. Karena jika mental kita masih terjajah, tentu kita hanya berfikir perlu menunggu Belanda datang lagi untuk menjadi pahlawan. China dan Amarika yang mengeksploitasi negeri tidak ukup untuk menjadikan kita pahlawan. Walau hanya embrio niat yang dipelihara. Merugilah kita setiap tahun memperingati hari kemerdekaan, saat kita tak mampu menjadikan kemelut hati dalam diri ini, untuk melahirkan niat kepahlawanan – padahal niat ini kelak akan bertemu momentum—orang yang memerlukan kesungguhan pertolonganNya.