Fiqh Keluarga, Menteladani Luqman Al-Hakim Dalam Mendidik Anak

Fiqh Keluarga, Menteladani Luqman Al-Hakim Dalam Mendidik Anak

بسم الله الرحمن الرحيم


Fiqh Keluarga, Menteladani Luqman Al-Hakim Dalam Mendidik Anak




Oleh : Tommy Abdillah


(Founder Majelis Ulin Nuha) 


Anak adalah ni'mat dan anugerah yang besar dari Allah ta'ala sebagai penerus nasab kedua orang tuanya. Anak adalah generasi penerus estafet kepemimpinan masa depan demi kebaikan dunia dan agama. Anak adalah buah hati orang tua yang akan menjadi investasi hakiki masa depan akhiratnya. 



Banyak pasangan suami isteri yang diuji oleh Allah tidak memiliki anak keturunan dengan sejuta hikmah. Dan jauh lebih banyak lagi pasangan suami isteri diberi Allah anak keturunan tapi tak mau atau tak mampu membimbing anak-anaknya menjadi anak yang soleh soleha. Mereka membiarkan anak-anaknya tumbuh besar tanpa bimbingan ilmu agama.


Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah engkau siapakah yang mandul?. Para sahabat menjawab; “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”.


Lalu Rasulullah SAW bersabda, Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia.”(HR. Ahmad)


Memiliki anak yang soleh dan soleha adalah harapan dan impian setiap orang tua yang beriman. Tapi mendidik dan membimbing anak yang soleh soleha bukanlah semudah seperti membalikkan kedua telapak tangan. Dimulai dari lingkungan terdekat yakni rumah, sekolah dan bersosial masyarakat. 


Apalagi mendidik anak di era akhir zaman memiliki tantangan dan tanggung jawab yang besar bagi setiap orang tua. Gadget dan internet adalah bagian yang tak terpisahkan dari anak zaman now. Segudang akses informasi dan media baik yang positif maupun negatif mudah didapat. Hal itu semua akan mempengaruhi karakter dan sikap anak. 


Menteladani Luqman Al-Hakim


Didalam Al-qur’an terdapat satu surat bernama Luqman. Allah menetapkan salah satu surat Al-quran bernama Luqman bukan tanpa alasan. Menurut Imam Zamakhsyari rahimahullahu Luqman bin bau'ra adalah putera saudari perempuan Nabi Ayub 'alaihissalam atau putra bibinya. Sedangkan menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam Kitab Tafsirnya Luqman adalah anak Anqa ibnu Sadun dan nama anaknya ialah Saran, menurut suatu pendapat yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi.


Luqman dijuluki sebagai ahli hikmah. Hikmah adalah kemampuan memecahkan masalah dan mampu mencari solusi yang terbaik dari suatu masalah. 


Pendidikan Luqman terhadap anak-anaknya menjadi teladan bagi kaum muslimin dan muslimat. Diantara pola pendidikan Luqman terhadap anak-anaknya adalah :


1. Menanamkan nilai-nilai tauhid sejak dini dan menjauhkan menyekutukan Allah.


Allah SWT berfirman, 


{وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)


Artinya : "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”(QS. Luqman : 13).


Menanamkan tauhid kepada anak sejak dini bisa dengan mengenalkan keagungan Allah dalam penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan. Serta mengenalkan sifat dan nama-nama Allah ta'ala (Asma' Al-husna). Kemudian menjelaskan tentang bahaya-bahaya syirik baik syirik kecil (riya'/sum'ah) maupun syirik yang besar (mendatangi dukun dan percaya jimat).


2. Memerintahkan untuk patuh dan taat kepada kedua orang tuanya. 


Allah SWT berfirman, 


وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)


Artinya : "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS. Luqman : 14).


Berbakti kepada kedua orang tua adalah memenuhi panggilannya, mendengar dan mentaati nasehatnya, berkata kepadanya dengan tutur kata yang baik dengan tidak mengatakan "ah". 


Memperlakukannya dengan perlakuan yang baik dan tidak kasar, menafkahinya bila mereka sampai usia lanjut, merawatnya dan senantiasa me doakannya baik masih hidup ataupun bila sudah wafat. 


3. Menegakkan shalat, menyuruh berbuat yang baik dan mencegah dari yang mungkar.


Allah SWT berfirman, 


 يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (17) 


Artinya : "Hai Anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu."(QS. Luqman : 17).


Setelah mengenalkan Allah, menanamkan akhlaq dan adab maka bimbinglah mereka untuk mendirikan ibadah shalat fardhu. Bila dari kecil tidak dibiasakan shalat maka akan sangat sulit ketika dewasa ia shalat. 


Rasulullah SAW bersabda, 


مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (وصححه الألباني في "الإرواء"، رقم 247)


Artinya : "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.(HR. Ahmad no. 6.650).


Shalat fardhu adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikannya maka dia mendirikan agama dan barang siapa yang meninggalkannya maka ia merobohkan agama.


4. Menjauhi sifat sombong dengan memalingkan wajah dan melunakan suara disaat berbicara.


Allah SWT berfirman, 


وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) 


Artinya : "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."(QS. Luqman : 18)


Banyak manusia yang sombong karena diberi Allah kelebihan harta, tingginya jabatan, banyaknya ilmu, cantik dan gantengnya wajah sehingga ia meremehkan manusia  dan menghinanya. Rasulullah SAW bersabda, 


الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ


Artinya: “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”(HR. Muslim no. 91).


Maka ajarkanlah anak-anak untuk memiliki sifat tawadhu' dengan menghormati dan menghargai orang lain dan menjauhi sifat sombong dengan tidak menolak kebenaran. 


*Penutup*


Subhanallah.. 

Ternyata kesolehan seorang ayah dan ibu sangat berperan besar menjadikan anak-anak kaum muslimin menjadi anak-anak yang soleh dan soleha. Tidak ada kata terlambat untuk terus memperbaiki diri menjadi hamba Allah yang lebih baik.


Belajar dari setiap kesalahan dan kegagalan dapat meraih kebaikan dihari esok bagi masa depan anak-anak kaum muslimin baik didunia maupun kelak diakhirat. 


Semoga anak-anak kaum muslimin era milenium menjadi anak yang soleh soleha yang memiliki pola fikir Islam (aqliyah Islamiyah) dan pola kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah). Mereka adalah generasi terbaik penerus Sulthan Muhammad Al-fatih untuk menaklukkan Roma yang kedua setelah Konstantinopel. 


Aamiin yaa Allah yaa Rabbal'alamin.. 


Wallahu a'lam