8 Alasan Kenapa Lebih Mudah Mencari Uang di Jaman Now

 

8 Alasan Kenapa Lebih Mudah Mencari Uang di Jaman Now


1. Makin murahnya aset, bahkan gratis

Bisnis wajib punya aset. Dulu, untuk membuka bisnis perlu aset2 fisik seperti bangunan, kantor, kios/toko, storage, dsb. Mendapatkannya bisa beli/bangun sendiri/sewa/apapun itu, yg jelas biayanya tidak murah. Apalagi ditambah tuntutan lokasi yg harus strategis, harus di pusat kota, pinggir jalan raya, dekat keramaian, dst. 

Di era digital sekarang, aset fisik tidak lagi menjadi keharusan. Aset digital seperti website, email, berbagai macam platform sosial media, marketplace, dll, lebih relevan dengan jaman, dan biaya untuk memilikinya jauh lebih terjangkau bahkan bisa gratis. 

8 Alasan Kenapa Lebih Mudah Mencari Uang di Jaman Now

2. Makin murahnya promosi bahkan gratis.

Dulu, ngiklan harus di majalah, koran, radio, televisi, pasang baliho di pinggir jalan, dsb yang harganya jelas tidak murah dengan pengukuran efektifitas yang tidak sederhana. Kini, beriklan di platform digital, fb ads, ig ads, google ads, endorse, dsb, biayanya jauh lebih terjangkau dan metriks2nya jauh lebih sederhana. Kita bisa beriklan bahkan mulai dengan budget 10ribu rupiah, menjangkau target spesifik yg kita inginkan, dan baru menambahkan budget jika iklan kita terbukti berhasil. Atau, kita bisa menjalankan metode organik yang gratis tapi malah bisa lebih powerful. 


3. Makin murahnya ilmu bahkan gratis.

Ya, bisnis jelas ada ilmunya. Kalau dulu ilmu2 bisnis menjadi barang langka bagi orang awam, kini di era informasi, konten2 ilmu bisnis dapat dengan mudah didapatkan oleh siapa saja di mana saja dan dari mana saja. 


4. Makin terkoneksinya manusia.

Pebisnis butuh lingkungan pergaulan yang mendukung aktivitas bisnisnya. Orang2 yang positif, optimis, punya visi besar, wawasan luas, dsb. Bergaul di lingkungan ini sangat penting, sevisi, sefrekuensi, saling berbagi ilmu, informasi dan potensi, saling mendukung dan menguatkan. Dulu tidak mudah mendapatkan akses ke orang2 seperti ini dan masuk ke circle mereka, tapi kini border seakan sudah tidak ada lagi.


5. Makin mudahnya berkolaborasi.

Bisnis memerlukan banyak kompetensi, kini orang2 dengan kompetensi yang berbeda2 dapat dengan mudah berkolaborasi. Contoh paling banyak, ada yang pintar memproduksi, tapi tidak mahir berjualan, dan sebaliknya sangat cakap berdagang, tapi tidak punya kemampuan memproduksi. Kedua pihak ini bisa mudah ketemu dan bersimbiosis mutualisme. Pemilik komoditi dan marketer. Pola2 reseller, dropshipper, afiliasi, muncul daru sini. Namun, banyak contoh lain yang tidak melulu antar produsen dan marketer. 


6. Makin mudahnya menjangkau pasar yang lebih luas.

Kini siapapun di manapun bisa menjual barang/jasanya kepada siapapun di manapun. Bisa dalam rangka meluaskan pasar, bisa juga sejak awal memang disengaja mentarget pasar yang jauh karna memang produknya lebih dibutuhkan oleh mereka yang di luar regionalnya. Contoh, jasa desain komunikasi visual lebih banyak dibutuhkan oleh bisnis2 di kota besar, tapi desainer yang tinggal di desa tidak harus pindah ke kota untuk dapat memasarkan jasanya. Kemudahan jangkauan ini berlaku global, bukan hanya antar desa dan kota, tapi juga antar negara. 


7. Makin banyaknya platform yang mempertemukan antar kebutuhan manusia. 

Malas mencari pasar? Gabung saja ke platform2 yang memang diadakan untuk membangun ekosistem pasar, mempertemukan antara penjual dan pembeli dari berbagai macam niche kebutuhan. Platform2 semacam ini banyak macamnya, dari kebutuhan yang sangat spesifik sampai yang sangat general, dan semuanya gratis. 


8. Makin "malas"nya manusia.

Kini lebih mudah menemukan 'celah' kebutuhan manusia. Kalau dulu Aqua dicibir tidak akan berhasil karna mana ada orang mau beli air putih? Setiap orang dapat dengan mudah memperoleh air putih dengan gratis, kenapa harus beli? Tapi Aqua membuktikan keberhasilannya. Anda tidak punya produk? Ambil celah antara produk dan konsumen, bikin jasa delivery. Gojek membuktikan bisa melayani jasa delivery barang/makanan meskipun jarak antara produk dan konsumennya tidak lebih dari 25 meter! Banyak celah kebutuhan lain yang muncul dari 'kemalasan' manusia ini. Cari kebutuhan itu, dan sediakan solusinya. 


So, nyaris tidak ada lagi alasan kondisi kita susah mencari sumber2 pendapatan. Mungkin mindset kita lah yg perlu dibenahi.

 

Kita muslim meyakini rizki, sedikit banyaknya, semua dari Allah. Urusan Allah. Tapi kita juga meyakini kewajiban ibadah yang salah satunya adalah bekerja. Ikhtiar ini adalah lingkaran yang kita kuasai. Bagi laki2, termasuk ibadah juga kewajiban menafkahi anak istri. Ini amanah yang tidak ringan pertanggungjawabannya. Dan kita juga yakin Allah maha mengabulkan doa. 


Rizki Allah ibarat air hujan, turun dengan deras beribu2 galon air tumpah ke bumi. Tapi berapa liter yang kita dapatkan? Kalau kita tidak menyiapkan talang/ tandon air atau minimal ember2 untuk menadahi, ya kita tidak akan mendapat apa2. So, berdoalah, mintalah rizki pada Allah, tapi juga siapkan tandon untuk menerimanya. Jadi ketika Allah merahmati dan menghujani mahluknya dengan rizkiNya yang tak terbatas, ada yang berhasil kita tampung, nggak bablas semua. Jadi ada lantarannya rizki itu sampai ke tangan kita. Bukan dengan ajaib simsalabim abrakadabra muncul dari balik kursi dimas kanjeng taat pribadi. 


Min haitsu la yahtasib itu juga kalau dirunut ada lantarannya. Ya walau ada aja kasus kayak Josua dari Tapanuli yang rumahnya kejatuhan meteor dan meteornya dibeli 200 juta. Tapi tandon itu ikhtiar kita. Bayangkan ada orang sangat malas dan berdoa minta rizki dengan cara menang lotre, minimal dia tetep harus ikhtiar beli lotrenya dulu kan? Itu lantarannya, sekecil2nya ikhtiar menyiapkan tandon. Berapa pendapatan yang kita harapkan setiap bulannya? Sudah sesuai kah besaran tandon yang kita siapkan? 

Haryo Praktikno (Owner KampusDesain)