Adab Membaca Al Quran Yang Harus Diketahui



Oleh : Ahmad Fauzi bin Mohamed

Tata Krama Membaca Tata Krama Salah satu kegiatan pokok atau kegiatan penting dalam pembelajaran adalah membaca atau mempelajari buku teks. Dalam hal terkait, tata krama membaca Alquran yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali (disadur oleh Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi diterjemahkan oleh Syed Ahmad Semait) dapat dijadikan pedoman dalam menentukan tata krama membaca buku teks.

Menurutnya, Imam al-Ghazali menguraikan dua tata krama yang harus ditaati ketika membaca Alquran, pertama urutan eksternal dan kedua urutan internal. Tatanan luar yang harus diikuti saat membaca Alquran adalah dalam keadaan bersih yaitu berwudhu terus menerus dengan sopan santun dan tenang. Ia dapat membaca sambil berdiri atau duduk, tetapi yang terbaik adalah menghadap kiblat, menundukkan kepala, tidak duduk bersila, tidak bersandar atau duduk seperti orang sombong (takabur). Tidaklah salah membaca Alquran tanpa wudhu atau dalam keadaan berbaring di atas ranjang, namun hanya akan mengurangi pahala. Ini sejalan dengan firman  Allah yang artinya dalam surah al-Imran: 191 yang artinya:

“Mereka yang mengingat Allah (zikir) dalam keadaan berdiri dan duduk serta ketika tiduran dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”.

Pembacaan Alquran harus proporsional yaitu yang dibaca setiap hari baik banyak maupun sedikit. Dalam perkembangannya terkait Usman Zaid bin Tasbit, Ibu Massaud dan Ubai bin Ka'ab r.a. melakukan pengajian setiap hari Jumat dengan membagi pengajiannya menjadi tujuh bagian (bagian dari Alquran).

Membaca Alquran dengan talqin atau membaca dengan lagu dan tajwid. Ini sangat menuntut karena tujuan utamanya adalah memikirkan maknanya. Bacaan seperti itu menandakan penghargaan dan rasa hormat dan akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati daripada membacanya secara teratur terburu-buru atau hanya malas.

Menangis saat membaca Alquran sangat menuntut karena kegembiraan di dalam hati  Pikirkan ayat-ayat yang berisi ancaman dan kritik dan janji Tuhan bersama dengan mereka yang melanggar perintahnya. Dalam konteks mempelajari mata. 

Hikmahnya, kita harus menyadari kebesaran Tuhan sebagai pemilik ilmu yang mutlak. Oleh karena itu, pembacaan harus dimulai terlebih dahulu membaca ayat-ayat Alquran yang berarti "Aku berlindung kepada Allah SWT  mendengar lebih tahu dari iblis terkutuk ”.

Pembacaan Alquran harus dengan suara rendah. Membaca seperti itu lebih aman daripada merasakan riak dan pamer di depan umum. Namun demikian, pembacaan keras diperlukan selama pembacaan tersebut tidak menimbulkan riak dan selama tidak mengganggu orang lain. Mempercantik bacaan dan kedisiplinan agar tidak terlalu banyak membaca cukup lama untuk merusak pengaturan. 

Di antara hadits Rasullullah S.A.W. Yang berhubungan adalah yang artinya “Mempercantik (membaca) Alquran dengan suaramu ”dan“ Tidak dihitung dalam kelompok kami, orang-orang yang tidak ada baca dengan lantang ”  []