Bencana Alam Antara Musibah Dan Azab Allah

Tommy Abdillah
(Founder Majelis Ilmu Ulin Nuha) 

Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji'un. Bangsa Indonesia kembali dilanda musibah. Hari Kamis lalu, 14 Januari Gempa bumi bermagnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat menimbulkan banyak korban. Bukan hanya bangunan yang luluhlantak, gempa Majene juga membuat akses jalan terputus akibat longsor di sepanjang jalan poros Majene-Mamuju. Jaringan listrik bahkan sempat terputus.

Bencana banjir dan tanah longsor juga melanda disejumlah daerah mulai dari Aceh,  Sumatera Utara, Jawa barat hingga Kalimantan Selatan. Bencana banjir akibat curah hujan yang tinggi, penyempitan daerah aliran sungai hingga gundulnya hutan akibat keserakahan manusia.

Para Kapitalis yg serakah menghabiskan areal hutan di Sumatera dan Kalimantan menjadi Gundul dibawah perundang-undangan konsensi hutan tanaman industri (HTI) dan hak pengusahaan hutan (HPH).  Hal inilah menjadi pangkal rusaknya hutan di Indonesia. WWF Indonesia mencatat, sisa hutan Sumatera yang dihitung dari tahun 1985 hingga tahun 2014 adalah 10,8 juta hektar atau tinggal 25 % dari seluruh pulau Sumatera. Jika dihitung laju kehilangan hutan sumatera mencapai 500 ribu hektar pertahunnya atau sekitar satu hektar permenit. 


Perbedaan Musibah Dan Cobaan


Musibah adalah suatu hal yang menyebabkan manusia kehilangan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah Dia anugerahkan kepadanya, berupa anak, orang tua, saudara, harta. Sakit yang menimpanya atau hal yang serupa dengan itu disebut musibah.
Adapun cobaan, lebih umum daripada musibah. Cobaan terkadang berbentuk kenikmatan. Hal seperti ini, bisa jadi lebih sulit dibandingkan dengan cobaan dalam bentuk musibah karena seringnya menyebabkan seseorang lupa akan akhirat, lupa kepada Rabbnya. 

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ 
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

Artinya : "Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Siapakah orang-orang yang sabar? Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang besar, curahan rahmat Allah dan hidupnya dibimbing oleh Allah. Dua, Innalillahi Wainailaihi Rojiun. Sesungguhnya, kami adalah milik Allah dan kembali kepada Allah.(QS. Al-baqarah :155-156).

Rasulullah SAW bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

Artinya : Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yg semisal. (HR. Al-Hakim, at-Tirmidzi.

Azab Allah SWT


Azab adalah siksaan dan hukuman. 
Allah SWT,

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya.” {QS. Al-Anfal:25}.

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ

Artinya : "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kamu,” bahkan ia akan menimpa pelaku kezholiman tersebut dan juga yang lainnya, dan itu apabila kezholiman muncul dan tidak ada yang merubahnya, maka siksaannya akan menimpa pelaku (kezholiman tersebut) dan juga yang lainnya. Cara menghindari siksa ini adalah dengan melarang orang melakukan kemungkaran, memberantas orang-orang yang suka berbuat jahat dan merusak, dan tidak membiarkan mereka melakukan kemaksiatan dan kezholiman sebisa mungkin.” {Tafsir As-Sa'di, hal.318}.

 
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS.Ar-Rum: 41).

Tafsir Ayat


Allah Swt. berfirman: Zhahara al-fasâd fî al-barr wa al-bahr (Telah tampak kerusakan di darat dan di laut). Dalam bahasa Arab, kata al-fasâd kebalikan dari al-shalâh (kebaikan). Segala sesuatu yang tidak terkagori sebagai kebaikan dapat dimasukkan ke dalam al-fasâd.

Imam An-Nasafi (W 710  H) memberikan contoh berupa terjadinya paceklik; minimnya hujan, hasil panen dalam pertanian, dan keuntungan dalam perdagangan; terjadinya kematian pada manusia dan hewan; banyaknya peristiwa kebakaran dan tenggelam; dan dicabutnya berkah dari segala sesuatu.( An-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâiq at-Ta’wîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001).

Allah SWT berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya : "Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri (QS. Asy-Syura:30).

Dengan demikian, ayat ini memastikan bahwa pangkal penyebab terjadinya seluruh kerusakan di muka bumi adalah pelanggaran dan penyimpangan manusia terhadap ketentuan syari'ah-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Artinya : "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al-Hadid: 22-23).


Penutup


Setiap musibah dan bencana apa pun itu yang menimpa individu atau menimpa khalayak ramai, baik itu gempa bumi, kekeringan, kelaparan, semua itu sudah dicatat di kitab Lauhul Mahfuzh. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”(HR.Muslim 2653).

Dalam hadits lainnya disebutkan,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبِ الْقَدَرَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ

“Sesungguhnya awal yang Allah ciptakan (setelah ‘arsy, air dan angin adalah qolam (pena), kemudian Allah berfirman, “Tulislah”. Pena berkata, “Apa yang harus aku tulis”. Allah berfirman, “Tulislah takdir berbagai kejadian dan yang terjadi selamanya.(HR.Tirmizi 2155).

Wallahu a'lam