Memahami Hakekat Tauhid

 
Memahami Hakekat Tauhid

Hakekat Tauhid

 Hakekat iman kepada Allah adalah menegakkan prinsip-prinsip tauhid dan meniadakan seluruh antithesanya, syirik.  Tauhid secara literal berarti mengesakan, dan syirik berarti   menyekutukan.   Dalam konteks Islam, tauhid dimaksudkan untuk mengesakan Allah, atau menisbatkan hanya kepada Allah, sifat-sifat dan kemampuan-kemampuan yang memang milikNya.   Sebaliknya, syirik bermakna menisbatkan kepada selain Allah, beberapa sifat dan kemampuan-kemampuanNya.  Keesaan Allah dianggap tidak lengkap kecuali diekspresikan dalam tiga aspek berikut ini :

1.Keesaan Ketuhanan (Tauhid Rububiyyah)

Tauhid ini merupakan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Sang Pencipta dan Pengatur langit, bumi, dan seisinya..  Dialah yang memberi kekuatan, rejeki semua yang ada di semesta alam ini.   Tak ada satupun kejadian yang terjadi tanpa ijin dariNya. 

 Al-Quran menyatakan, artinya,”Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”[Qs. Az-Zumar:62]  

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” [Qs.ash-Shaffat:96] “Tidak ada sesuatupun musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah.” [Qs. At-Taghabun:11]   

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka..”[al-An’am:1]

Nabi saw bersabda, “Ketahuilah bahwa jika seluruh bangsa bersatu dalam usaha memberimu suatu manfaat, mereka hanya mampu memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu jika Allah memang telah menakdirkannya untukmu.  

Demikian pula, jika seluruh bangsa bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka hanya mampu melakukannya jika Allah telah menakdirkan hal itu terjadi kepadamu. ” Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta juga diyakini oleh orang-orang kafir.   Allah swt berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab : "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.[Luqman:25]  “Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?"[al-Mu’minuun:84-85] Namun, keyakinan mereka akan keesaan Allah dalam hal rububiyyah tidak menyelamatkan mereka dari kekafiran.  Sebab, mereka telah menolak tauhid uluhiyyah.  Ini terlihat tatkala Rasulullah saw berkata kepada mereka, “Katakanlah La Ilaha Illa al-Allah –artinya beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan mempersekutukanNya.”  Orang-orang kafir itu menjawab –sebagaimana telah disebutkan di dalam al-Quran artinya, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”.[Shaad:5]. 

Di ayat lain, Allah berfirman, artinya,“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”.[al-Zumar:3].   Al-Muqriziy menyatakan, “Tidak ada keraguan lagi, tauhid rububiyyah tidak diingkari oleh orang-orang musyrik, bahkan mereka menetapkan bahwa Dialah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta.  Mereka hanya mengingkari tauhid uluhiyyah.” 

 2.Keesaan Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya (Tauhid Asma’ wa Shifat)

Tauhid Asma’ wa Shifat merupakan keyakinan bahwa Allah memiliki nama dan sifat, yang dengan nama dan sifatNya itu, Ia atau Nabi saw melukiskan keadaan diriNya.    Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Allah swt mensifati DiriNya dengan sifat yang telah disifatkan oleh DiriNya sendiri, atau disifatkan oleh Rasulullah saw, serta para generasi awal Islam yang tidak melebihi batas al-Quran dan Sunnah.     

Nama dan Sifat  Allah ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut ini; “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.[Thaha:5] “Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya `Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.”[al-Zukhruf:82] “Dan Dia-lah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”[al-Zukhruf:84-85]   Nama dan Sifat Allah tidaklah serupa dengan sifat dan nama makhlukNya.   Dalam hal ini Allah swt telah memberi rambu-rambu kepada umatNya ketika hendak memahami sifat dan nama Allah, dengan firmanNya, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.[al-Syura:11].  Demikianlah, Allah swt memiliki nama dan sifat.    


3.Keesaaan Ibadah (Tauhid Uluhiyyah)

Tauhid belum sempurna dengan sekedar pengakuan atas tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat.  Sebab, kedua tauhid ini dapat dianggap sebagai sekedar teori tauhid.  Agar ‘tauhid teoritis’ ini menjadi sempurna, ia harus melibatkan tujuan dan sasaran dari tauhid, yakni penyembahan hanya kepada Allah swt.  

Ketika menjelaskan  tauhid uluhiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Tidak ada kebahagian, dan keselamatan bagi seorang hamba kecuali selalu mengikuti Rasulullah saw.  Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, ia akan dimasukkan ke surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.   Yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat agung.  Akan tetapi, siapa saja yang maksiyat kepada Allah dan RasulNya dan melanggar ketetapan-ketetapan Allah, maka ia akan dimasukkan ke neraka.  Ia akan mendapatkan siksa yang sangat pedih.  Sesungguhnya Allah menciptakan makhluq agar mereka menyembah (beribadah) kepadaNya.  Allah swt berfirman, artinya, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [al-Dzariyat:56]  Bentuk ibadah mereka kepada Allah adalah dengan cara mentaati Allah dan RasulNya.  Tidak ada ibadah kecuali  apa yang telah diwajibkan dan diridloi oleh agama Allah. 

 Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Mekah pada masa Nabi saw mempercayai ketuhanan Allah sebagai Pencipta sekaligus mempercayai pula berbagai sifat-sifatNya.  Namun demikian, mereka tetap disebut sebagai orang musrik.  Allah swt berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?  Tentu mereka akan menjawab,”Allah”.  Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan dari jalan yang benar.”[al-‘Ankabuut:61] “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air   itu bumi sesudah matinya?’  Tentu mereka akan menjawab,”Allah.”  Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.”[al-‘Ankabut:63].  

Ibadah dalam Islam bermakna penyerahan diri kepada Allah yang diwujudkan melalui kepatuhan pada hukum-hukum Allah swt .  Berpegang teguh atau lebih mengutamakan hukum-hukum buatan manusia lebih dari hukum Allah merupakan kesyirikan dalam tauhid al-‘ibadah.  Allah telah berfirman di dalam al-Quran, artinya, “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.  Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”[al-An’am:57] “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir.”[al-Maidah 44] 

Ketika Rasulullah saw membacakan ayat al-Quran, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”[at-Taubah 31], Adiy bin Hatim menyatakan bahwa (orang-orang Yahudi dan Nashrani) tidak menyembah kepada rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, akan tetapi mereka juga menyembah kepada Allah. 


Pernyataan ini ditangkis Rasulullah saw dengan pernyataan beliau, “Akan tetapi rahib-rahib dan pendeta itu telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, kemudian mereka mengikutinya.”  Ini menunjukkan bahwa, sekedar menyakini Allah swt dari sisi rububiyyah dan asma’ wa shifat, tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari kekafiran, sampai ia mengesakan Allah dalam hal penyembahan (tauhid uluhiyyah); dengan jalan menyakini bahwa hukum Allah adalah satu-satunya hukum yang berhak ditaati dan diikuti.   

Atas dasar itu, menyakini bahwa hukum Allah swt sebagai satu-satunya hukum yang berhak mengatur kehidupan manusia, merupakan refleksi dari tauhid uluhiyyah.  Seorang muslim harus menyakini bahwa hukum-hukum Allah (syari’at Allah), satu-satunya hukum terbaik yang mampu memecahkan seluruh problematika umat manusia.   Ia tidak boleh menyakini aturan-aturan lain selain aturan Allah yang mampu menyaingi atau setingkat levelnya dengan aturan Allah swt.  (bersambung)